Rusia-ASEAN Perkuat Perdagangan, Energi Jadi Fokus KTT di Kazan

KTT Rusia-ASEAN di Kazan membahas penguatan perdagangan, energi, investasi, keamanan, dan konektivitas, dengan Indonesia ikut mendorong kerja sama ekonomi yang adil dan inklusif.

KAZAN
– Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Kazan, Rusia, pada 17–18 Juni 2026, menyoroti penguatan kerja sama perdagangan, energi, keamanan, investasi, dan konektivitas di tengah dinamika geopolitik global.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuka rangkaian KTT dengan menekankan pentingnya hubungan Rusia dan ASEAN dalam membangun kerja sama ekonomi-politik yang lebih erat. Forum ini juga menjadi momentum peringatan 35 tahun hubungan Rusia dan ASEAN.

Putin mengatakan, Rusia dan ASEAN memiliki kepentingan bersama dalam memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil. Ia juga menyinggung pentingnya penghormatan terhadap kesetaraan negara serta keragaman budaya dan peradaban.

“Saat ini, Rusia dan ASEAN bersama-sama memperjuangkan sistem dunia yang adil, kesetaraan negara, dan pengakuan terhadap keragaman budaya dan peradaban dunia,” tegas Putin.

Dalam forum tersebut, Putin juga menyebut Kazan sebagai kota bersejarah yang mencerminkan keragaman budaya dan agama di Rusia. Ia turut mengingatkan peran Uni Soviet pada masa lalu yang pernah membantu sejumlah negara Asia Tenggara melepaskan diri dari penjajahan.

Di sela KTT, Putin menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Dalam pertemuan itu, Putin mengenang hubungan historis Rusia dan Filipina, termasuk komunike bersama yang pernah ditandatangani pada 1967 pada masa Presiden Ferdinand Marcos.

Marcos Jr. menyampaikan, prioritas Filipina dalam kemitraan dengan Rusia mencakup sektor keamanan dan energi. Filipina disebut tengah menghadapi tekanan energi dan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah sehingga membuka peluang pembahasan pasokan minyak dari Rusia.

Putin juga bertemu Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas hubungan bilateral dan posisi Brunei dalam menjaga keseimbangan diplomatik di tengah isu-isu internasional yang kompleks.

Selain agenda antarpemimpin negara, Forum Bisnis Rusia-ASEAN juga digelar untuk mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha. Forum ini membahas peluang kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi digital, energi, investasi, pertanian, pariwisata, layanan kesehatan, dan industri teknologi.

Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan, Malaysia terus mengembangkan ekonomi digital dan mendukung sistem perdagangan global berbasis aturan. Ia juga menegaskan posisi Malaysia sebagai negara independen yang terbuka menjalin hubungan dengan berbagai negara, termasuk Rusia.

Analis Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Ruslan Puhov menilai pasar Malaysia tetap terbuka bagi Rusia pada masa mendatang, meski kerja sama militer-teknis Malaysia dan Rusia tetap dipengaruhi sanksi Amerika Serikat (AS). Malaysia diketahui menggunakan sejumlah pesawat tempur buatan Rusia, termasuk MiG-29N dan Su-30MKM.

Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia Maksim Reshetnikov melaporkan, pada kuartal I 2026, pengiriman minyak dan bahan bakar mineral Rusia ke kawasan Asia Tenggara meningkat 40 persen. Peningkatan itu disebut berkaitan dengan ketidakpastian pasokan energi global akibat krisis di Selat Hormuz.

Meski peluang kerja sama dinilai besar, volume perdagangan Rusia dan ASEAN masih relatif terbatas. Nilainya disebut baru mencapai 17,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp283 triliun. Angka itu jauh di bawah nilai perdagangan China dan ASEAN yang mencapai sekitar 1 triliun dolar AS pada 2025.

PM Thailand Anutin Charnvirakul dan PM Vietnam Le Minh Hung turut menekankan pentingnya ASEAN menjadi jembatan bagi pelaku usaha Rusia untuk masuk ke pasar Asia Tenggara. Thailand menyoroti potensi kerja sama di sektor pangan, pertanian, pariwisata, layanan medis, transisi hijau, industri digital, pusat data, produksi cip, dan semikonduktor.

Thailand juga mencatat tingginya kunjungan warga Rusia ke negaranya. Pada 2025, sebanyak 2 juta wisatawan Rusia disebut berkunjung ke Thailand, sehingga negara itu menjadi salah satu tujuan utama warga Rusia di Asia Tenggara.

Sementara itu, Vietnam menyoroti pentingnya penguatan konektivitas transportasi antara Timur Jauh Rusia dan Asia Tenggara. Konektivitas tersebut dinilai penting untuk memperlancar arus barang, investasi, dan mobilitas antarkawasan.

Indonesia turut berpartisipasi dalam KTT tersebut melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Dalam forum itu, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi dengan Rusia, serta mendorong kerja sama di bidang energi, teknologi, dan pendidikan.

Sugiono juga menekankan pentingnya sistem perdagangan global yang adil dan inklusif. Prinsip tersebut dinilai sejalan dengan pendekatan ASEAN yang mengedepankan dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap kepentingan negara anggota.

KTT Rusia-ASEAN di Kazan diharapkan menjadi pijakan baru bagi peningkatan hubungan kedua kawasan, terutama dalam perdagangan, energi, investasi, dan konektivitas. Pertemuan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi ASEAN di tengah persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com