MoU AS-Iran berisi 14 poin membuka masa perundingan 60 hari, tetapi menuai kritik karena dinilai memberi konsesi besar kepada Teheran.
WASHINGTON– Nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi ujian besar bagi diplomasi Presiden AS Donald Trump setelah sejumlah media dan pengamat menilai kesepakatan itu memberi konsesi besar kepada Teheran.
Trump merespons kritik tersebut dengan pernyataan keras di media sosial beberapa jam setelah dirinya dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terpisah menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang berlangsung sejak Februari, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Kamis, (18/06/2026).
“Orang-orang bodoh ini, yang menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan harga minyak ‘jatuh’, adalah mereka yang cemburu, orang jahat, atau bodoh,” tulis Trump di media sosial, beberapa jam setelah menandatangani perjanjian, seperti dilaporkan AFP.
Melalui nota kesepahaman tersebut, AS dan Iran memiliki waktu 60 hari ke depan untuk memulai perundingan lanjutan guna menghentikan perang secara resmi. Kesepakatan itu juga menjadi pintu awal pembahasan sejumlah isu strategis, termasuk sanksi minyak, program nuklir Iran, dan rencana rekonstruksi.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS berkomitmen segera menghapuskan sanksi minyak yang selama ini melumpuhkan perekonomian Iran. Setelah kesepakatan akhir terkait program nuklir Iran tercapai, AS juga akan memfasilitasi pencairan kompensasi untuk rekonstruksi Iran senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.342 triliun yang didukung negara-negara di kawasan.
Sebaliknya, pejabat AS menyebut Iran akan mengurangi cadangan uranium yang diperkaya. Pengurangan itu disebut dapat dilakukan melalui mekanisme down-blending di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, sejumlah media AS menilai MoU tersebut belum sepenuhnya menjawab tujuan awal sebelum perang. Kritik terutama diarahkan pada besarnya konsesi ekonomi yang dinilai diberikan kepada Iran sebelum ada kepastian penghentian program nuklir secara menyeluruh.
“Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran,” demikian laporan jaringan TV AS, MS NOW.
“Sekarang, pemerintah berusaha mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tiak ada yang mau menerima tawarannya,” lanjut laporan itu.
Kritik juga datang dari Fox News, saluran berita yang selama ini dikenal relatif ramah terhadap pemerintahan Trump. Media tersebut mengutip sejumlah pihak yang menilai perjanjian itu memberi keuntungan finansial besar kepada Iran tanpa jaminan kuat bahwa Teheran benar-benar menghentikan program nuklirnya.
Sementara itu, Wall Street Journal (WSJ) menyebut perjanjian tersebut sebagai salah satu pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar dalam masa jabatan kedua Trump. Kesepakatan ini diperkirakan akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras yang menilai Trump terlalu banyak memberi konsesi.
“Trump akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras kebijakan Iran, yang mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada yang ia dapatkan,” kutip WSJ.
Meski menuai kritik, MoU AS-Iran tetap membuka ruang perundingan lanjutan dalam 60 hari ke depan. Masa ini akan menjadi penentu apakah kesepakatan awal tersebut benar-benar mampu meredakan konflik atau justru menambah tekanan politik terhadap Trump di dalam negeri. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan