26 Tahun Margo Kencono Rawat Tradisi di Kutim

Hari Jadi ke-26 Paguyuban Margo Kencono menjadi momentum pelestarian Reog Ponorogo sekaligus penguatan budaya sebagai perekat masyarakat Kutim yang majemuk.

KUTAI TIMUR – Paguyuban Margo Kencono menandai 26 tahun kiprahnya dalam menjaga tradisi, terutama kesenian Reog Ponorogo, melalui perayaan hari jadi yang dipusatkan di Lapangan Margo Sentoso II, Gang VIII, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Sabtu (20/06/2026) malam.

Perayaan yang dirangkai dengan peringatan 1 Suro tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok seni sekaligus memperkuat budaya sebagai perekat masyarakat Kutim yang memiliki latar belakang beragam.

Ketua Paguyuban Margo Kencono, Andi Satyo, mengatakan organisasi itu telah hadir di Kutim sejak 1998 dan resmi terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) pada 2000.

“Selama 26 tahun kami berupaya menjaga tradisi dan melestarikan budaya, terutama kesenian Reog Ponorogo yang menjadi identitas paguyuban kami,” kata Andi.

Mengusung tema “Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya”, kegiatan tersebut dimeriahkan penampilan Reog Ponorogo dari Paguyuban Margo Songo Joyo, Singo Mudho, Singo Lawu, Pawargo, dan Singo Budoyo.

Penampilan kelompok-kelompok seni itu mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memadati lokasi acara. Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang dan pendukung di tengah perkembangan masyarakat Kutim.

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman yang menghadiri kegiatan tersebut mengatakan keberagaman budaya merupakan modal penting bagi pembangunan daerah. Pernyataan itu, sebagaimana diberitakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim, Minggu (21/06/2026), disampaikan di hadapan pegiat seni, pengurus paguyuban, dan masyarakat yang menghadiri perayaan.

“Budaya merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan. Di setiap aspek pembangunan, budaya selalu memberikan dorongan dan kekuatan bagi masyarakat untuk terus maju,” ujarnya.

Menurut Bupati Kutim, pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga membutuhkan nilai budaya yang dapat memperkuat kebersamaan, identitas, dan partisipasi masyarakat.

Pemkab Kutim, lanjutnya, selama beberapa tahun terakhir memberikan ruang bagi pelestarian kebudayaan melalui penyelenggaraan berbagai festival serta penguatan kelembagaan adat. Dukungan tersebut juga diberikan kepada paguyuban, pegiat seni, lembaga adat, dan tokoh budaya yang memperkaya khazanah budaya di daerah berjuluk Tuah Bumi Untung Benua itu.

“Mudah-mudahan budaya menjadi perekat yang membuat kita terus maju, berdaya saing, mandiri, kreatif dan tangguh dalam membangun Kutai Timur,” tuturnya.

Kiprah Paguyuban Margo Kencono dan kelompok seni lainnya diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan Reog Ponorogo, tetapi juga memperluas keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya serta memperkuat keharmonisan masyarakat Kutim yang majemuk. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com