Konser Amal Palangka Raya Bidik Rp600 Juta untuk Bedah Rumah

Konser musik klasik di Palangka Raya menggalang donasi dan mengadakan lelang kerajinan untuk memenuhi target Rp600 juta bagi program bedah rumah 10 keluarga.

PALANGKA RAYA – Konser Amal Musik Klasik di Kota Palangka Raya menargetkan penghimpunan dana Rp600 juta untuk membedah rumah 10 keluarga yang membutuhkan. Penggalangan bantuan melalui donasi dan lelang itu menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas, serta masyarakat dalam menyediakan hunian yang aman dan layak.

Setiap rumah diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp60 juta. Dana yang terkumpul dari konser tersebut akan difokuskan untuk membantu keluarga penerima manfaat di Kota Palangka Raya.

Konser digelar di ruang ballroom Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, Senin (20/07/2026) mulai pukul 19.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Kegiatan itu merupakan kolaborasi JakArt, Susila Dharma Indonesia, dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya.

Acara tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-61 Pemkot Palangka Raya, Hari Jadi ke-69 Kota Palangka Raya, serta Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Muhammad Subuh Centre (MSC) pada 2026.

Sebagaimana dilansir Mmckalteng, Senin, (20/07/2026), konser bertema Hantep Hapakat itu mengangkat semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Dayak di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Nilai tersebut diwujudkan melalui penggalangan bantuan bagi warga yang belum memiliki tempat tinggal layak.

Ketua Panitia Maulita Mustafa mengatakan rumah menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang keluarga. Tempat tinggal yang aman dan nyaman dinilai dapat memberikan ruang yang lebih baik bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.

Ia mengapresiasi para musisi, Pemkot Palangka Raya, sponsor, donatur, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan konser tersebut.

“Bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Fairid Naparin mengatakan konser amal tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Kota Palangka Raya. Sejumlah kegiatan sebelumnya telah digelar, antara lain penanaman 6.900 pohon, Festival Budaya Nusantara, dan Palangka Raya Fair.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap kepedulian masyarakat terus tumbuh sehingga target pembangunan rumah layak huni dapat tercapai dan memberikan manfaat nyata bagi warga,” ungkapnya.

Konser yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perbankan, tokoh masyarakat, komunitas seni, serta pencinta musik klasik itu juga menjadi panggung perluasan akses masyarakat terhadap pertunjukan seni berkualitas.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Memeluk Indonesia yang digagas pianis Ary Sutedja. Palangka Raya tercatat sebagai kota ke-55 yang dikunjungi sekaligus lokasi konser ke-88 dalam rangkaian tur nasional tersebut.

Ary mengatakan setiap pertunjukan dalam program Memeluk Indonesia tidak hanya membawa karya musik, tetapi juga mengusung misi kemanusiaan. Semangat tersebut diwujudkan di Palangka Raya melalui dukungan terhadap program bedah rumah.

“Semoga musik kami menginspirasi dan menjadikan Kota Palangka Raya bagian dari kota dunia. Musik klasik juga harus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu kami datang membawa semangat filantropi, menjadi sahabat bagi sesama manusia yang membutuhkan,” tuturnya.

Menurut Ary, seluruh pertunjukan dalam program Memeluk Indonesia diselenggarakan tanpa pungutan biaya. Langkah itu dilakukan untuk memperluas akses masyarakat sekaligus menghapus anggapan bahwa musik klasik hanya dapat dinikmati kelompok tertentu.

“Kami ingin mematahkan anggapan bahwa musik klasik hanya milik kalangan tertentu. Justru kami yang datang menemui masyarakat agar akses terhadap seni berkualitas dapat dinikmati semua kalangan,” jelasnya.

Ia menilai musik klasik merupakan warisan budaya dunia yang telah bertahan selama ratusan tahun. Kehadiran pertunjukan tersebut di Palangka Raya diharapkan dapat memperkaya kehidupan budaya daerah dan mendekatkan karya musik kepada masyarakat luas.

Nuansa internasional dalam konser itu dihadirkan melalui kolaborasi Ary dengan musisi asal Korea Selatan, Seung Yong Choi. Pertunjukan mereka dipadukan dengan penampilan Tris Sofia Wartina dan penyanyi sopran asal Palangka Raya, Gabriella Sabatini.

Para musisi membawakan sejumlah karya, antara lain Salut d’Amour ciptaan Edward Elgar dan Melati Suci karya Guruh Soekarnoputra. Pertunjukan musik tersebut juga dipadukan dengan tari tradisional Dayak.

Sebagai simbol persahabatan budaya, panitia menyerahkan busana adat Dayak Sangkirai kepada para musisi. Penghormatan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Kalteng kepada penampil dari dalam dan luar negeri.

Menjelang akhir acara, panitia melelang sejumlah kerajinan khas Kalteng. Hasil lelang tersebut didedikasikan untuk membantu mencapai target pembangunan rumah layak huni bagi 10 keluarga.

Kolaborasi seni dan aksi sosial dalam konser itu diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam membantu keluarga yang membutuhkan sekaligus memperluas akses publik terhadap pertunjukan seni berkualitas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com