Kerja sama militer, energi, dan diplomasi membuat Azerbaijan tetap menjadi salah satu mitra strategis Israel meski mayoritas penduduknya beraliran Syiah.
BAKU – Hubungan strategis Azerbaijan dengan Israel kembali menjadi sorotan di tengah konflik Israel-Iran. Meski mayoritas penduduknya beraliran Syiah, Azerbaijan disebut mempertahankan kerja sama erat di bidang pertahanan, intelijen, energi, hingga diplomasi yang dinilai memberi keuntungan bagi kedua negara.
Berdasarkan hasil investigasi yang diungkap CNN, Azerbaijan diduga menjadi salah satu titik penting dalam jaringan operasi Israel di kawasan Timur Tengah. Sejumlah sumber anonim menyebut pasukan Israel pernah beroperasi di wilayah selatan Azerbaijan yang berbatasan langsung dengan Iran untuk menjalankan misi pengumpulan intelijen dan operasi drone.
Keberadaan operasi tersebut dinilai memberikan keuntungan strategis bagi Israel untuk memantau aktivitas di wilayah utara Iran selama konflik berlangsung.
Hubungan erat kedua negara bukanlah hal baru. Sejak awal 1990-an, Azerbaijan menjadi salah satu pemasok utama energi bagi Israel. Bahkan, ketika banyak negara Muslim mengkritik kebijakan Israel di Jalur Gaza, Azerbaijan tetap mempertahankan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara tersebut.
“Azerbaijan tidak pernah membiarkan konflik Israel-Palestina memengaruhi hubungannya dengan Israel,” kata peneliti senior Pusat Studi Strategis Begin-Sadat, Mordechai Kedar, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (28/07/2026).
Selain memasok energi, Azerbaijan juga menjadi salah satu pembeli utama sistem persenjataan Israel. Dalam satu dekade terakhir, hampir 70 persen kebutuhan impor militernya berasal dari Israel. Kedua negara juga menjalin berbagai kesepakatan pertahanan yang memperkuat hubungan bilateral.
Kerja sama tersebut semakin terlihat pada 2023 ketika Israel dilaporkan memasok persenjataan kepada Azerbaijan menjelang operasi militer untuk merebut kembali wilayah Nagorno-Karabakh. Data pelacakan penerbangan menunjukkan adanya aktivitas pesawat kargo militer Azerbaijan dari pangkalan udara Israel menuju wilayah dekat Nagorno-Karabakh sebelum operasi dimulai.
Selain kerja sama militer dan energi, Azerbaijan juga berperan sebagai penghubung diplomatik antara Israel dan Turki. Kedekatan hubungan Azerbaijan dengan kedua negara dinilai mempermudah komunikasi di tengah dinamika politik kawasan.
Fondasi hubungan kedua negara bermula sekitar tiga dekade lalu melalui pertemuan Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin, dengan Presiden Azerbaijan saat itu, Heydar Aliyev, di New York. Dalam pertemuan tersebut, Israel membutuhkan pasokan energi yang stabil, sedangkan Azerbaijan menginginkan akses terhadap teknologi dan sistem pertahanan Israel. Kemitraan itu kemudian berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling konsisten di kawasan Timur Tengah dan Kaukasus. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan