Donald Trump menepis isu krisis amunisi Amerika Serikat setelah konflik dengan Iran dan menyatakan pemerintahannya tengah memperkuat kembali cadangan persenjataan.
WASHINGTON D.C – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membantah anggapan bahwa negaranya mengalami kekurangan amunisi setelah konflik bersenjata dengan Iran. Trump menegaskan persediaan senjata masih mencukupi, sekaligus menyebut pengiriman bantuan militer besar-besaran ke Ukraina pada masa pemerintahan sebelumnya menjadi penyebab stok perlu dipulihkan.
Trump menyampaikan pemerintahannya kini mempercepat pembangunan kembali cadangan persenjataan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran sejumlah pengamat mengenai kemampuan AS mempertahankan operasi militer apabila konflik dengan Iran berlangsung dalam jangka panjang.
“Biden memberikan banyak bantuan ke Ukraina, jadi kami sedang membangunnya kembali. Tapi, kami punya banyak,” kata Trump, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (28/07/2026).
“Kami juga punya banyak di tingkat menengah. Maksud saya, lebih dari yang bisa kami gunakan,” imbuh dia.
Trump menilai pemerintahannya tetap menginginkan persediaan senjata yang lebih besar, namun pengiriman bantuan militer ke Ukraina pada masa Presiden Joe Biden membuat stok harus kembali diperkuat. Ia menambahkan proses penambahan persediaan senjata kini berlangsung “dengan sangat cepat.”
Di sisi lain, peneliti senior bidang studi pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute, Katherine Thompson, mengingatkan bahwa perang berkepanjangan berpotensi menguras stok rudal jarak jauh dan amunisi pertahanan udara AS.
“Waktu adalah faktor utama di sini. Jika ini berlanjut selama beminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja,” kata Thompson.
“Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi.”
Thompson juga menilai AS menghadapi tantangan logistik untuk melindungi sekitar 50.000 personel militernya yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Konflik antara AS bersama Israel melawan Iran berlangsung sejak akhir Februari 2026. Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada April yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Selanjutnya, pada Juni, kedua pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai penghentian pertempuran dan komitmen tidak memulai serangan baru. Namun, pada pertengahan Juli, Trump kembali meminta militer AS melancarkan serangan terhadap Iran. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan