Gencatan Senjata Buntu, Serangan Israel Tewaskan Sembilan Warga Gaza

Perbedaan syarat penghentian operasi militer, penarikan pasukan, dan pelucutan senjata menghambat penerapan peta jalan gencatan senjata ketika serangan Israel kembali menewaskan warga sipil Gaza.

GAZA – Pelaksanaan peta jalan gencatan senjata di Jalur Gaza kembali menghadapi kebuntuan setelah serangan udara Israel menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina pada Minggu (02/08/2026), termasuk satu keluarga dan seorang anak, di tengah perbedaan syarat mengenai penghentian operasi militer serta pelucutan senjata Hamas.

Pejabat kesehatan Palestina menyatakan serangan dilancarkan secara terpisah di Kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Younis, dan sekitar Jabalia. Serangan itu terjadi untuk hari kedua berturut-turut meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mengklaim terdapat terobosan dalam upaya menjalankan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Oktober 2025.

Di Deir al-Balah, seorang pria dan istrinya tewas setelah sebuah apartemen diserang. Empat orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan terhadap apartemen di Kota Gaza juga menewaskan dua orang, termasuk seorang anak.

Menjelang fajar, serangan menghantam sebuah rumah di kawasan Mawasi, Khan Younis. Seorang ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka yang berusia sembilan tahun meninggal dunia. Satu korban lainnya dilaporkan tewas dalam serangan di dekat Jabalia, Gaza utara.

Militer Israel menyatakan serangan di Deir al-Balah diarahkan kepada dua komandan pasukan elit Hamas, Nukhba. Serangan di Kota Gaza dan Jabalia juga disebut menyasar anggota militer, tetapi pihak Israel masih meninjau situasi serta dampak serangan tersebut.

Serangan terbaru berlangsung ketika langkah akhir penerapan gencatan senjata belum dijalankan. Board of Peace, badan pimpinan AS yang mengawasi kesepakatan tersebut, telah menerbitkan peta jalan berisi 15 poin pada Jumat (31/07/2026).

Peta jalan itu diumumkan sehari setelah Trump menyatakan telah terjadi terobosan karena Hamas disebut bersedia melucuti senjata berdasarkan inisiatif yang didukung AS. Namun, Hamas menyatakan senjatanya baru akan diserahkan untuk disimpan setelah Israel menghentikan operasi militer dan menarik pasukan sesuai kesepakatan sebelumnya.

Israel mengajukan syarat berbeda. Seorang pejabat Israel mengatakan tidak akan ada penarikan pasukan dari posisi militer saat ini sebelum Hamas menjalani “pelucutan senjata sungguhan”, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Minggu, (02/08/2026).

Menteri Energi Israel Eli Cohen menyatakan belum ada kesepakatan untuk menghentikan serangan di Gaza. Ia juga meragukan Hamas akan menyerahkan seluruh persenjataannya dan mendorong Israel mengambil kendali penuh atas wilayah tersebut.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu belum menyampaikan tanggapan terbuka mengenai inisiatif itu. Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menolak peta jalan tersebut dan meminta operasi pembunuhan tertarget terhadap para pemimpin Hamas tetap dilanjutkan.

Mantan pejabat senior Fatah Mohammed Dahlan menyatakan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Trump yang terlibat dalam inisiatif tersebut, tengah bekerja sama dengan pihak Israel untuk menghentikan serangan di Gaza. Namun, pernyataan itu belum dikonfirmasi oleh Pemerintah Israel maupun Departemen Luar Negeri AS.

Data yang disebut dalam laporan tersebut mencatat sedikitnya 1.230 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dicapai pada Oktober 2025. Kesepakatan itu disebut masih berlaku, tetapi serangan dan operasi militer terus terjadi.

Perbedaan mengenai urutan penghentian serangan, penarikan pasukan, dan pelucutan senjata menjadi hambatan utama penerapan peta jalan damai. Pelaksanaan kesepakatan secara nyata dinilai mendesak untuk mencegah bertambahnya korban sipil dan menghentikan kekerasan berkepanjangan di Gaza. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com