Kolaborasi UPK dan Poliban membekali pengrajin Kopiah Jangang di Desa Margasari dengan keterampilan pemasaran digital, branding, dan bahasa Inggris untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional.
TAPIN – Upaya memperluas pasar kerajinan tradisional terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Tim dosen Universitas PGRI Kalimantan (UPK) bersama Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) mendampingi pengrajin Kopiah Jangang di Desa Margasari, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), agar mampu memasarkan produknya hingga ke pasar internasional melalui penguatan branding, pemasaran digital, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk Tahun Anggaran 2026. Kegiatan difokuskan pada penguatan daya saing kerajinan Kopiah Jangang melalui transformasi digital, pengembangan strategi pemasaran, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Desa Margasari selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan Kopiah Jangang yang dibuat dari akar tanaman jangang (Gleichenia linearis). Produk tersebut dikerjakan secara manual dengan teknik yang diwariskan secara turun-temurun sehingga memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi sebagai produk unggulan daerah.
Ketua tim pengabdian Yasyir Fahmi Mubaraq mengatakan program tersebut dirancang untuk memperluas jangkauan pemasaran tanpa menghilangkan identitas budaya lokal, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu (02/08/2026).
“Kupiah Jangang bukan hanya kerajinan tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Melalui transformasi digital, penguatan branding, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kami ingin membantu para pengrajin agar produk ini mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” ujar Yasyir.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut menggabungkan kompetensi di bidang bahasa Inggris, pemasaran digital, dan manajemen keuangan. Pendampingan dilakukan bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Hasrat Maju yang melibatkan 20 pengrajin Kopiah Jangang melalui sejumlah pertemuan pada 27 Juni, 11 dan 18 Juli, serta 1 Agustus 2026.
Materi pelatihan meliputi manajemen keuangan, akuntansi sederhana, English for Marketing, strategi pemasaran digital, serta pengelolaan media digital dan situs web. Tim juga mengembangkan situs e-commerce sebagai sarana promosi dan pemasaran yang diserahkan kepada kelompok pengrajin guna memperluas akses pasar.
Salah seorang pengrajin Kopiah Jangang, Defi, mengaku pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pemasaran produk.
“Kami sekarang lebih percaya diri memperkenalkan Kopiah Jangang dalam bahasa Inggris kepada calon pembeli dari luar negeri. Selain itu, kami juga diajarkan menggunakan website untuk memasarkan produk, mengunggah foto, menulis deskripsi produk, dan memanfaatkan media digital. Semoga dengan ilmu ini, Kopiah Jangang semakin dikenal dan penjualannya bisa menjangkau pasar internasional,” ujar Defi.
Ketua KUB Hasrat Maju Agus Sufiannor menilai pendampingan tersebut menjawab kebutuhan para pengrajin dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif.
“Kami tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga memperoleh pendampingan mengenai pemasaran digital, website, dan pengelolaan usaha. Harapannya, Kopiah Jangang semakin dikenal masyarakat luas hingga ke mancanegara,” katanya.
Selain pelatihan, tim menyerahkan sejumlah sarana pendukung berupa modul pembelajaran, alat press manual, mini studio produk, reflektor, tripod, serta perangkat pemasaran digital. Pendampingan juga akan berlanjut secara daring hingga Oktober 2026 untuk membantu pengrajin dalam penggunaan situs web, pemasaran berbahasa Inggris, dan pengelolaan akuntansi sederhana. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan