Anggota Kongres Amerika Serikat meminta penjelasan pemerintah mengenai persoalan kesehatan mental, fasilitas dasar, keselamatan, dan perpanjangan penugasan awak USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.
WASHINGTON, D.C. – Kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln memicu desakan anggota Kongres Amerika Serikat agar Departemen Pertahanan memberikan penjelasan mengenai persoalan kesehatan mental, keselamatan, dan fasilitas dasar yang dialami personel selama penugasan panjang di Timur Tengah.
Anggota Kongres Amerika Serikat Mike Levin bersama tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat lainnya, yakni Sara Jacobs, Scott Peters, dan Juan Vargas, mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Mereka menilai langkah yang telah disiapkan Kementerian Pertahanan untuk menangani persoalan di USS Abraham Lincoln belum memadai, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Jumat (14/08/2026).
Surat tersebut meminta penjelasan mengenai penyebab munculnya berbagai persoalan di kapal dan langkah yang akan dilakukan agar kondisi serupa tidak terulang.
“Kami perlu informasi yang jelas dan jujur dari Kementerian Pertahanan yang menyebabkan masalah di atas USS Lincoln untuk memastikan hal ini tak pernah terjadi lagi,” demikian surat itu, dikutip Al Jazeera.
Para anggota DPR Amerika Serikat juga mempertanyakan lambannya penanganan kondisi yang dinilai tidak higienis serta dukungan kesehatan mental bagi personel. Mereka juga mempertanyakan komunikasi Angkatan Laut kepada keluarga awak kapal dan pejabat pemerintah.
Surat tersebut menyoroti sejumlah persoalan, termasuk kondisi kebersihan kapal dan dukungan terhadap kesehatan mental personel.
“Mengapa kondisi tak higienis tak segera ditangani? Mengapa para anggota militer tak menerima dukungan kesehatan mental yang memadai? Mengapa Angkatan Laut tidak mengkomunikasikan masalah-masalah ini sejak dini dan secara berkala kepada keluarga dan pejabat pemerintah yang berwenang?” demikian isi surat tersebut.
Secara terpisah, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat Richard Blumenthal juga meminta penjelasan kepada Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao. Blumenthal menyebut sejumlah persoalan yang dilaporkan terjadi selama penugasan USS Abraham Lincoln.
“Sudah ada laporan luas soal kekurangan pasokan dasar, kontaminasi air, masalah perpipaan, kesehatan mental [personel] yang memburuk, kekhawatiran soal keselamatan di dek kapal, dan gangguan sistem pos, yang menyebabkan banyak paket bantuan yang sedang dalam perjalanan ke kapal hilang selama berbulan-bulan,” tulis Blumenthal, demikian dikutip Anadolu Agency.
Blumenthal menyebut USS Abraham Lincoln meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut San Diego pada 21 November 2025 untuk menjalani penugasan yang semula direncanakan selama tujuh bulan. Kapal tersebut seharusnya mengakhiri pelayaran pada Mei, tetapi masa tugasnya terus diperpanjang tanpa kepastian waktu kembali.
Perpanjangan penugasan itu menjadi perhatian karena USS Abraham Lincoln masih berada di Timur Tengah untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Kondisi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran keluarga personel dan anggota Kongres terkait kesejahteraan awak kapal.
Sejumlah pelaut USS Abraham Lincoln bahkan dilaporkan mencoba melompat ke laut selama penugasan berkepanjangan. Laporan tersebut memperkuat desakan agar pemerintah Amerika Serikat segera memberikan perhatian terhadap kondisi kehidupan dan kesehatan mental personel yang menjalankan tugas di tengah konflik berkepanjangan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan