Pemkab Malang menggandeng UB dan kalangan arsitek untuk menyusun konsep Alun-Alun Kepanjen dengan mempertimbangkan tata ruang, aksesibilitas, fungsi sosial, dan perkembangan kawasan.
JAWA TIMUR – Rencana pembangunan Alun-Alun Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mulai diarahkan pada perencanaan berbasis kajian dengan melibatkan Universitas Brawijaya (UB) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Malang Raya. Kolaborasi tersebut dibahas dalam audiensi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dengan jajaran UB di Kota Malang, Rabu (30/09/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 5 Gedung Rektorat UB itu membahas sejumlah aspek yang perlu dipertimbangkan sebelum pembangunan dilakukan, antara lain tata ruang, fungsi kawasan, aksesibilitas, konektivitas, serta manfaat ruang publik bagi masyarakat.
Bupati Malang Sanusi mengatakan keterlibatan perguruan tinggi diperlukan agar konsep pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi memiliki dasar kajian yang sesuai dengan kebutuhan kawasan Kepanjen.
“Kami ingin pembangunan Alun-Alun Kepanjen nantinya tidak hanya menjadi ruang terbuka bagi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan kawasan Kepanjen sebagai pusat pemerintahan dan pelayanan publik. Karena itu, masukan dan dukungan dari Universitas Brawijaya sangat penting untuk menyempurnakan perencanaannya,” ujar Sanusi.
Menurut Sanusi, masukan akademik diharapkan dapat memperkuat proses perencanaan sehingga pembangunan dapat menyesuaikan dengan karakter kawasan dan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkab Malang menata Kepanjen sebagai pusat pemerintahan dan pelayanan publik.
Dalam pertemuan tersebut, UB menyatakan kesiapan memberikan dukungan melalui kajian dan masukan dari berbagai bidang keilmuan yang berkaitan dengan rencana pembangunan Alun-Alun Kepanjen.
Rektor UB Widodo mengatakan kontribusi akademik dapat diberikan melalui kajian yang mendukung penyusunan konsep pembangunan agar ruang publik tersebut memiliki manfaat yang optimal bagi masyarakat.
“Universitas Brawijaya siap memberikan dukungan melalui kajian dan masukan akademik sesuai dengan bidang keilmuan yang kami miliki. Harapannya, rencana pembangunan Alun-Alun Kepanjen dapat disusun secara matang, berbasis kajian, serta memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” terang Widodo.
Audiensi tersebut juga dihadiri sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkab Malang serta perwakilan IAI Cabang Malang Raya. Keterlibatan unsur akademik dan profesi arsitektur menjadi bagian dari pembahasan untuk memperkaya perspektif dalam penyusunan konsep kawasan.
Rencana Alun-Alun Kepanjen tidak hanya berkaitan dengan penyediaan ruang terbuka. Kawasan tersebut juga diproyeksikan menjadi ruang interaksi warga sekaligus mendukung fungsi Kepanjen sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Malang.
Karena itu, aspek sosial, akses masyarakat, konektivitas antarkawasan, serta keberlanjutan pengembangan perkotaan menjadi bagian yang perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan. Pemkab Malang dan UB selanjutnya diharapkan dapat memperkuat sinergi agar konsep pembangunan memiliki landasan kajian yang terukur dan dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan