PM Qatar Sebut Netanyahu Penjahat Perang, Soroti Serangan di Gaza

PM Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengecam Benjamin Netanyahu terkait operasi militer Israel di Gaza dan serangan ke Doha, tetapi menegaskan bahwa upaya mediasi tetap berlanjut.

DOHA – Qatar menegaskan tetap melanjutkan upaya mediasi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, meskipun pemerintahnya melontarkan kecaman keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait operasi militer di Gaza dan serangan udara ke Doha pada September 2025.

Perdana Menteri (PM) Qatar sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang” dalam wawancara dengan jurnalis Inggris Piers Morgan pada Selasa (29/9) waktu setempat.

Ketika ditanya apakah dirinya menganggap Netanyahu sebagai penjahat perang, Al Thani menjawab: “Tentu saja. Apa yang telah dilakukan di Gaza adalah kejahatan perang, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal ini adalah penjahat perang.”

Ia juga menyoroti serangan terhadap fasilitas sipil di Gaza, termasuk rumah sakit dan sekolah, yang menurutnya tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Rumah-rumah sakit telah menjadi sasaran, sekolah juga telah menjadi sasaran. Apa pun pembenaran dan argumen yang dikemukakan, tidak ada yang dapat membenarkan tindakan ini,” sebutnya.

Pernyataan tersebut sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Rabu, (30/09/2026), sekaligus menegaskan posisi Qatar yang tetap mengutamakan diplomasi meskipun hubungan dengan Israel diwarnai ketegangan.

Al Thani turut menuduh Netanyahu menyerang Qatar secara politis untuk mengalihkan perhatian dari tindakan pemerintahannya. Ia kembali mengecam serangan udara Israel ke Doha pada September 2025 yang dilaporkan menargetkan pejabat Hamas ketika Qatar sedang menjalankan upaya mediasi.

Serangan tersebut menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar. Insiden itu menjadi salah satu sumber ketegangan antara Doha dan pemerintah Israel karena terjadi ketika Qatar berperan sebagai perantara dalam komunikasi terkait konflik kawasan.

“Kami diserang oleh Israel saat kami sedang melakukan mediasi. Netanyahu telah melampaui batas, seperti dia telah melampaui batas-batas lainnya di masa lalu,” kecam Al Thani.

Di tengah pertukaran kecaman tersebut, pemerintah Qatar menyatakan tidak akan menghentikan jalur perundingan. Al Thani menilai komunikasi di balik layar tetap menjadi salah satu cara efektif untuk membuka ruang dialog dan mendorong penyelesaian konflik.

“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan saran terbaik kepada pemerintah AS mengenai cara mencapai solusi, begitu pula kepada pihak Iran,” tandasnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Qatar berupaya mempertahankan perannya sebagai mediator meskipun menghadapi ketegangan diplomatik. Kelanjutan upaya tersebut akan bergantung pada kesediaan pihak-pihak terkait untuk menjaga komunikasi dan mencari jalan keluar melalui perundingan. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *