Dari Kebun Meratus ke Pasar, Hilirisasi Kopi Kalsel Terus Didorong

Hilirisasi kopi dari Pegunungan Meratus didorong untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi kopi Kalsel.

BANJARBARU – Pelaku usaha kopi di Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai mendorong perubahan pola bisnis dari sekadar menjual biji kopi menjadi pengembangan produk olahan yang memberikan nilai tambah bagi petani. Salah satu upaya tersebut dilakukan Herborneo melalui pendampingan petani, penguatan kualitas pascapanen, hingga pengembangan produk kopi dari Pegunungan Meratus.

Langkah itu muncul di tengah potensi perkebunan kopi rakyat Kalsel yang mencapai sekitar 2.231-2.928 hektare dengan produksi biji kering berkisar 884-1.204 ton per tahun. Kabupaten Banjar menjadi salah satu sentra terbesar dengan luas areal sekitar 678 hektare, disusul Kabupaten Balangan sekitar 526 hektare.

Potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi maksimal bagi petani karena sebagian hasil perkebunan masih dipasarkan sebagai bahan mentah. Padahal, proses pengolahan seperti penyangraian, penggilingan, pengemasan, hingga pengembangan produk siap konsumsi dapat menciptakan nilai tambah lebih besar.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel Suparmi menekankan pentingnya pengembangan agribisnis kopi secara terpadu dari hulu hingga hilir. Strategi itu mencakup penguatan kelembagaan pekebun, pembentukan korporasi petani berbasis kawasan, serta diversifikasi produk.

Upaya tersebut sejalan dengan program Pengembangan Kopi Diversifikasi Terintegrasi (BANGKODIN) yang disiapkan Disbunnak Kalsel untuk memperkuat sektor kopi. Program tersebut diarahkan agar petani tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mampu memperoleh manfaat ekonomi dari pengolahan hasil perkebunan.

Salah satu pelaku usaha yang mengambil peran dalam rantai tersebut ialah Muhammad Khalid Abdullah melalui Herborneo. Sebagaimana diwartakan Kanal Kalimantan, Jumat (14/08/2026), Khalid mengembangkan usaha yang awalnya bergerak pada produk herbal kopi bajakah sejak 2019 hingga kemudian berfokus pada pengolahan kopi dari Pegunungan Meratus.

Khalid mengatakan keterlibatannya dengan petani membuatnya menemukan sejumlah persoalan yang memengaruhi nilai jual kopi, mulai dari kualitas biji yang belum seragam hingga keterbatasan akses pasar.

“Beranjak dari ketertarikan tersebut menjadi nilai penting Herboneo bertumbuh hingga hari ini. Herboneo tidak ingin hanya membeli kopi, lalu menjualnya kembali. Seiring waktu bersama petani kopi saya mulai melihat, persoalan yang dihadapi petani. Kualitas hasil biji kopi belum seragam, pasca panen belum optimal, akses pasar terbatas, dan posisi tawar petani sering kali lemah karena ketergantungan pada tengkulak,” ungkapnya.

Melalui PT Herbo Mandiri Group, usaha tersebut kemudian dikembangkan tidak hanya sebagai pengolah kopi dan herbal, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendampingan petani. Herborneo memberikan edukasi mengenai kualitas kopi, pengolahan pascapanen, serta penguatan kemampuan kelompok tani dan pelaku usaha kopi.

“Hari ini Herborneo tidak hanya bergerak sebagai pengolah kopi dan herbal, tetapi juga mulai berperan dalam edukasi, pendampingan dan pembinaan kelompok tani kopi,” kilah founder Herborneo melalui usahanya berhasil mendapatkan Award tahun 2024 predikat Gold di kancah nasional pada acara CFCD Foundation dalam program pembinaan UMKM Unggulan Binaan United Tractors Site Tanjung.

Khalid mengatakan pembinaan tersebut diarahkan agar petani memahami bahwa kualitas hasil kebun turut menentukan nilai jual produk di pasar.

“Kami terus mendorong petani agar tidak berhenti pada proses menghasilkan buah kopi saja. Karena nilai kopi sangat ditentukan sejak kebun hingga pascapanen. Untuk mendukung proses tersebut, Herborneo banyak bersosialisasi dan memberikan pembinaan kepada para petani, juga memberikan pelatihan kepada barista atau para pelaku usaha di bidang kopi,” beber Khalid.

“Tujuan kami sederhana, petani tidak lagi hanya berpikir yang penting kopi saya laku, tetapi mulai berpikir, bagaimana kopi saya berkualitas sehingga memiliki harga yang lebih baik,” sambung Khalid bercita-cita tinggi.

Saat ini, Robusta dari kawasan Pegunungan Meratus menjadi salah satu bahan baku utama Herborneo. Produk yang dihasilkan dipasarkan dalam sejumlah ukuran kemasan dengan pengolahan yang diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi.

“Yang terpenting bagi kami adalah setiap kilogram kopi harus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui proses hilirisasi,” tegasnya.

Selain Robusta, Kalsel juga memiliki peluang pengembangan kopi Liberika di kawasan lahan rawa dan gambut, khususnya di Kabupaten Barito Kuala. Pengembangan komoditas tersebut dinilai dapat menjadi alternatif ekonomi sekaligus mendukung pemanfaatan lahan yang sesuai dengan karakteristik tanaman.

Namun, pengembangan industri kopi di Kalsel masih menghadapi sejumlah kendala. Produktivitas kopi rakyat yang disebut berada di sekitar 592 kilogram per hektare masih perlu ditingkatkan melalui teknologi budidaya, pemupukan dan peremajaan tanaman.

Ketersediaan fasilitas pascapanen juga menjadi persoalan. Belum seluruh kelompok tani memiliki akses terhadap mesin pengupas kulit buah, alat pengering yang memenuhi standar kebersihan, serta mesin sangrai dengan kapasitas dan standar industri.

Akses pembiayaan dan pasar juga menjadi faktor penting. Penguatan kerja sama antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), perbankan, pelaku usaha dan petani diperlukan agar produk kopi lokal memiliki kesempatan lebih besar masuk ke pasar nasional hingga ekspor.

Khalid melihat pengembangan kopi tidak berhenti pada kepentingan bisnis, tetapi berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar sentra produksi.

“Karena itu, cita-cita saya bukan hanya membuat Herborneo menjadi merek kopi yang dikenal. Saya ingin Herborneo menjadi bagian dari gerakan yang membuat kopi Kalimantan naik kelas,” jelasnya.

Menurut dia, peningkatan nilai kopi harus dilakukan dengan menempatkan petani sebagai mitra dalam rantai usaha, bukan hanya sebagai pemasok bahan baku.

“Dari kebun Meratus menuju pasar Indonesia, dari petani menuju hilirisasi, dari kopi lokal menuju kebanggaan Kalimantan,” pungkas pelaku UMKM peraih bantuan fasilitas permodalan, pemasaran, dan mesin produksi kopi dari Bank Indonesia KPW Kalimantan Selatan.

Penguatan hilirisasi juga membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam legalitas usaha, standardisasi, izin edar, pengujian produk, desain kemasan, pelabelan, sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga penyediaan infrastruktur pengangkutan hasil perkebunan.

Jika ekosistem tersebut dapat diperkuat, kopi Kalsel berpeluang tidak lagi dipandang sebatas komoditas perkebunan. Produk dari Pegunungan Meratus dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri lokal yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani sekaligus memperkuat diversifikasi ekonomi Kalsel. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com