Ritual Sembahyang Rebut dan pembakaran replika Kapal Wangkang menjadi sarana masyarakat Tionghoa Kubu Raya merawat penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat silaturahmi di tengah keberagaman.
KUBU RAYA – Ritual Sembahyang Rebut yang dijalankan masyarakat Tionghoa di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), tidak hanya menjadi sarana penghormatan kepada leluhur, tetapi juga ruang pelestarian budaya dan penguatan silaturahmi di tengah keberagaman masyarakat. Tradisi tersebut kembali digelar di Yayasan Bhakti Suci, Kecamatan Sungai Raya, Kamis (27/08/2026).
Salah satu rangkaian utama ritual ditandai dengan pembakaran replika Kapal Wangkang. Sebelum prosesi berlangsung, masyarakat memanjatkan doa di tengah kepulan asap dupa sebagai bagian dari penghormatan kepada leluhur.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kubu Raya Rensa S. Aktadivia mengatakan ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa yang masih dipertahankan hingga saat ini. Rangkaian kegiatan mencakup sembahyang kubur hingga pembakaran replika Kapal Wangkang.
“Ini adalah kegiatan masyarakat kita, masyarakat Tionghoa, sebagai suatu budaya. Ada kegiatan sembahyang kubur hingga pembakaran Kapal Wangkang. Ini merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur untuk mengantarkan leluhur ke nirwana,” kata Rensa, sebagaimana diberitakan Pontianak Post, Jumat (28/08/2026).
Prosesi pembakaran Kapal Wangkang menjadi simbol penting dalam rangkaian ritual tersebut. Bagi masyarakat yang menjalankannya, ritual itu mengandung nilai spiritual sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan ingatan dan penghormatan kepada leluhur.
Tradisi yang diwariskan antargenerasi tersebut juga menjadi sarana mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Unsur doa, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, dan kehidupan sosial berpadu dalam rangkaian Sembahyang Rebut.
Rensa mengaku baru pertama kali menyaksikan secara langsung rangkaian ritual tersebut, termasuk prosesi pembakaran replika Kapal Wangkang.
“Untuk kegiatan ini kali pertama bagi saya. Ini juga merupakan suatu pengalaman yang baru,” ujarnya.
Menurut Rensa, Sembahyang Rebut dan pembakaran replika Kapal Wangkang tidak hanya menjadi kegiatan budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga telah tercatat sebagai salah satu agenda resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya.
Masuknya tradisi tersebut dalam agenda daerah menunjukkan bahwa kebudayaan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian dari kekayaan Kubu Raya. Daerah tersebut dihuni masyarakat dengan beragam latar belakang etnis dan budaya yang terus hidup berdampingan.
Rensa berharap tradisi tahunan tersebut dapat terus diselenggarakan sekaligus menjadi ruang mempererat hubungan masyarakat di tengah keberagaman etnis.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi sesama etnis yang ada di Kubu Raya,” kata Rensa.
Keberlangsungan Sembahyang Rebut menunjukkan bahwa tradisi tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Selain menjaga identitas dan nilai spiritual masyarakat Tionghoa, kegiatan tersebut diharapkan turut memperkuat sikap saling menghormati serta kehidupan sosial yang harmonis antarkelompok masyarakat di Kubu Raya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan