Serangan AS terhadap dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak memicu respons Teheran dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz.
JAKARTA – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Serangan tersebut dilakukan ketika pasukan Iran disebut sedang bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke jalur pelayaran strategis tersebut.
Serangan AS itu menjadi perkembangan terbaru dalam konflik yang berpotensi mengancam keamanan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Pulau Larak berada di sebelah timur Pulau Qeshm dan secara administratif termasuk Provinsi Hormozgan, Iran.
Informasi mengenai serangan awalnya muncul setelah warga di sekitar Larak melaporkan mendengar ledakan. Kantor berita Fars menyebut lokasi dan penyebab ledakan belum dapat dipastikan. Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan informasi awal mengenai serangan pesawat nirawak AS yang menyasar sebuah lokasi di pulau tersebut, sebagaimana dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Senin (31/8/2026).
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya memastikan operasi tersebut menyasar dua peluncur milik Iran. Menurut pejabat itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terlihat mempersiapkan roket yang dilengkapi ranjau laut untuk diluncurkan ke Selat Hormuz.
“Saya dapat memastikan bahwa hari ini pasukan AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam terlihat bersiap meluncurkan roket dengan ranjau laut ke Selat Hormuz.”
Serangan tersebut kemudian memicu respons Iran. IRGC menyatakan serangan AS menyebabkan sejumlah anggota militernya dan warga sipil tewas serta terluka. Garda Revolusi Iran juga menyatakan akan melakukan pembalasan.
Menurut laporan media Iran, respons tersebut diarahkan antara lain terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Yordania. Seorang reporter Fox News yang mengutip sumber AS menyebut hampir seluruh rudal yang datang telah dicegat dan sejauh ini belum terdapat dampak signifikan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran terkait penggunaan ranjau di Selat Hormuz. Trump mengatakan seluruh ranjau telah diledakkan atau disingkirkan dari perairan internasional di selat tersebut dan memperingatkan bahwa kapal atau perahu yang memasang ranjau baru akan dihancurkan.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi jalur utama pengiriman energi dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia diketahui melintasi perairan tersebut. Karena itu, setiap peningkatan aktivitas militer di sekitar Larak dan selat tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran dan distribusi energi global.
Serangan di Larak juga menandai kembalinya operasi militer AS terhadap wilayah Iran setelah serangan AS yang diketahui sebelumnya terjadi pada akhir Juli. Konflik AS dan Israel dengan Iran telah berlangsung lebih dari enam bulan dan sebelumnya turut memicu serangan balasan Iran terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan AS.
Perkembangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya mereda meski sebelumnya konflik sempat mengalami jalan buntu. Ancaman penggunaan ranjau laut, serangan terhadap fasilitas militer, serta aksi balasan di kawasan Teluk membuat keamanan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama masyarakat internasional. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan