Spanduk Gereja Warnai Pertarungan Politik Sachsen-Anhalt

Gereja-gereja di Sachsen-Anhalt memperkuat pesan tentang demokrasi, keberagaman, dan solidaritas ketika AfD menguat menjelang pemilihan negara bagian.

MAGDEBURG – Gereja-gereja di Sachsen-Anhalt, Jerman, memperkuat seruan untuk menjaga demokrasi dan keberagaman menjelang pemilihan negara bagian pada 6 September 2026. Sikap tersebut mengemuka ketika Alternative für Deutschland (AfD) semakin kuat dalam jajak pendapat dan berpeluang memperoleh posisi dominan dalam pembentukan pemerintahan negara bagian.

Pesan-pesan yang dipasang di sejumlah gereja menjadi salah satu bentuk sikap terbuka lembaga keagamaan tersebut. Di depan Katedral Katolik Magdeburg, berkibar sejumlah bendera dengan pesan, “Kasihi sesamamu, berdialog, junjung martabat manusia, dan solidaritas. PILIH DENGAN SADAR!”

Sementara itu, spanduk di gedung jemaat Katedral Protestan menyerukan, “Keberagaman adalah anugerah Tuhan.” Gereja-gereja Protestan lainnya memasang pesan berbeda, tetapi memiliki semangat serupa, yakni “Utamakan kasih, bukan kebencian.”

Sikap tersebut merupakan bagian dari kekhawatiran gereja terhadap penguatan AfD di Sachsen-Anhalt. Badan intelijen dalam negeri Jerman bahkan telah menetapkan cabang AfD Sachsen-Anhalt sebagai organisasi “ekstremis sayap kanan yang terkonfirmasi.”

Uskup Magdeburg Gerhard Feige sebelumnya juga menyampaikan pesan politik secara tersirat. Dalam khotbah pada acara ziarah September 2025, Feige mengatakan para peziarah harapan tidak memberikan suara secara sembarangan atau “ke arah warna biru.” Warna biru diketahui menjadi ciri khas AfD. Ucapannya ketika itu disambut tepuk tangan panjang.

Meski proporsi penduduk yang berafiliasi dengan gereja di Sachsen-Anhalt relatif kecil, lembaga keagamaan masih memainkan peran dalam menyuarakan isu demokrasi. Sekitar 10 persen penduduk negara bagian tersebut beragama Protestan dan 3 persen Katolik. Sementara itu, lebih dari 85 persen dari sekitar 2,1 juta penduduk tidak berafiliasi dengan agama apa pun, dibandingkan rata-rata nasional Jerman sebesar 47 persen.

Sikap gereja tersebut berseberangan dengan kebijakan yang diusung AfD. Dalam program pemerintahannya yang disahkan pada April, AfD mengkritik gereja Protestan dan Katolik serta menyerukan penghentian pembayaran negara kepada gereja dan penghapusan pemungutan pajak gereja oleh pemerintah.

AfD juga menginginkan gereja ikut bertanggung jawab secara finansial atas program suaka gereja, yaitu ketika pengungsi berlindung di lingkungan gereja karena khawatir mengalami persekusi apabila dipulangkan ke negara asal.

Akademi Protestan Sachsen-Anhalt turut menjadi sasaran kritik AfD. Partai tersebut menilai lembaga itu melakukan “agitasi politik” dalam isu perubahan iklim, ideologi gender, keberagaman seksual, serta mendukung “imigrasi massal tanpa kendali.”

Rangkaian pernyataan dan pemasangan spanduk menunjukkan bahwa gereja di Sachsen-Anhalt tidak sekadar menjalankan fungsi keagamaan, tetapi juga berupaya mempertahankan ruang publik yang menekankan keberagaman, dialog, martabat manusia, dan solidaritas menjelang pemungutan suara. Sikap itu sekaligus menempatkan hubungan antara lembaga keagamaan dan AfD sebagai salah satu isu yang ikut mewarnai kontestasi politik di negara bagian tersebut. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com