Trenggiling yang ditemukan mati hangus di Desa Terantang Hilir menjadi alarm bahwa karhutla di Kotim telah mengancam habitat serta keberlangsungan hidup satwa liar di kawasan rimba.
KOTAWARINGIN TIMUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai menunjukkan dampak serius terhadap ekosistem. Seekor trenggiling, satwa yang dilindungi, ditemukan mati dalam kondisi hangus di kawasan hutan yang terbakar, menandakan api tak hanya merusak lahan warga, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar beserta habitatnya.
Trenggiling tersebut ditemukan warga di kawasan rimba Desa Terantang Hilir yang terdampak karhutla. Lokasinya berada cukup jauh dari akses utama dan membutuhkan perjalanan sekitar satu jam dari dermaga untuk mencapainya.
Camat Seranau Dwi Kushendro membenarkan temuan satwa yang diduga tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api tersebut.
“Saat ditemukan kondisinya sudah mati. Bangkai trenggiling kemudian dibawa oleh pencinta reptil,” kata Dwi kepada wartawan, sebagaimana diberitakan Kalamanthana, Minggu, (06/09/2026).
Bangkai trenggiling selanjutnya ditangani Komunitas Pencinta Reptil Sampit dengan cara dikuburkan. Temuan tersebut memperlihatkan sisi lain dampak karhutla yang selama ini lebih banyak diukur berdasarkan luas lahan terbakar, kepulan asap, maupun ancaman api terhadap kebun dan permukiman warga.
Sebelum trenggiling ditemukan, warga juga melaporkan sejumlah lahan dan kebun di kawasan tersebut ikut terbakar. Luas area terdampak disebut telah mencapai puluhan hektare, sementara kondisi vegetasi yang kering membuat api mudah merambat semakin jauh ke kawasan hutan.
Masuknya api ke kawasan rimba meningkatkan ancaman terhadap satwa liar. Selain berisiko terjebak kobaran api, satwa yang mampu bertahan juga menghadapi kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan setelah habitatnya terbakar.
Trenggiling termasuk satwa yang rentan dalam kondisi kebakaran karena pergerakannya relatif lambat. Ketika api menjalar cepat dan mengepung kawasan, peluang satwa tersebut untuk keluar dari lokasi terdampak menjadi semakin kecil.
Kerusakan habitat akibat karhutla juga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan. Satwa yang kehilangan ruang hidup dapat berpindah ke kawasan lain untuk mencari makanan dan perlindungan, termasuk mendekati permukiman manusia sehingga meningkatkan potensi konflik antara satwa dan warga.
Kematian trenggiling di Terantang Hilir menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla di Kotim tidak hanya berkaitan dengan penyelamatan lahan dan perlindungan masyarakat. Pengendalian kebakaran juga menentukan keberlangsungan habitat dan keselamatan satwa liar yang hidup di kawasan hutan terdampak. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan