150 Ribu Pelanggan Terdampak Krisis Air Baku Banjarmasin

Intrusi air laut dengan kadar garam 8.000 miligram per liter membuat Sungai Bilu tak dapat menjadi sumber air baku, sehingga produksi air bersih Banjarmasin turun lebih dari 50 persen dan distribusi kepada lebih dari 150 ribu pelanggan terganggu.

BANJARMASIN – Intrusi air laut dengan kadar garam mencapai 8.000 miligram per liter membuat sumber air baku di Sungai Bilu tidak dapat diolah sehingga PT Air Minum Bandarmasih harus menghentikan pengambilan air dari salah satu sumber utama tersebut. Kondisi ini memangkas lebih dari 50 persen kapasitas produksi air bersih dan berdampak pada distribusi kepada lebih dari 150 ribu pelanggan di Kota Banjarmasin.

Supervisor Humas PT Air Minum Bandarmasih Murjani mengatakan tingginya kadar garam terjadi karena intrusi air laut masuk ke Sungai Martapura yang menjadi salah satu sumber air baku pengolahan air bersih. Kondisi tersebut membuat pengambilan air melalui intake Sungai Bilu berkapasitas 600 liter per detik harus dihentikan.

“Tingginya kadar garam ini tidak bisa diolah,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu, (09/09/2026).

PT Air Minum Bandarmasih memiliki tiga sumber pengambilan air baku, yakni Sungai Bilu, Sungai Tabuk, dan irigasi. Dari ketiganya, Sungai Bilu merupakan sumber dengan kapasitas terbesar, sementara pasokan dari saluran irigasi sudah tidak dapat dimanfaatkan karena mengalami kekeringan.

“Sumber pengambilan air baku untuk PAM Bandarmasin itu ada tiga, di Sungai Bilu, Sungai Tabuk dan Irigasi, terbesar di Intek Sungai Bilu ini,” paparnya.

Penghentian pengambilan air dari Sungai Bilu kemudian berimbas terhadap produksi dan distribusi air bersih. Wilayah terdampak mencakup hampir seluruh bagian Kota Banjarmasin, mulai dari kawasan timur, selatan, barat, tengah, hingga utara.

“Mulai dari kawasan Timur, Selatan, Barat, Tengah, hingga Utara,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Sungai Tabuk menjadi satu-satunya sumber air baku yang masih dapat digunakan karena kadar garamnya masih berada pada angka nol. Sementara itu, pasokan dari irigasi tidak dapat dimanfaatkan karena kondisi saluran yang mengering.

“Sungai Tabuk itu masih nol, masih bisa diambil. Otomatis kita mengambil air baku di Sungai Tabuk saja, untuk irigasi kita sudah lama tidak mendapatkan dari irigasi, karena itu tidak bisa diambil sama sekali karena kering.” kata Murjani.

Keterbatasan sumber air baku membuat kapasitas produksi yang dalam kondisi normal mencapai 2.200 liter per detik kini harus dikurangi lebih dari 50 persen. Penurunan tersebut terjadi ketika perusahaan tetap harus melayani lebih dari 150 ribu pelanggan.

Untuk menjaga layanan di tengah keterbatasan pasokan, PT Air Minum Bandarmasih melakukan sejumlah langkah mitigasi. Perusahaan mendistribusikan air menggunakan truk tangki ke sejumlah wilayah terdampak serta menyiapkan tandon berkapasitas 3.000 liter bagi pelanggan yang sama sekali tidak memperoleh aliran air bersih.

Perusahaan juga menerapkan sistem distribusi secara bergilir. Sebagai contoh, kawasan timur dan selatan mendapatkan aliran air pada pukul 06.00 hingga 12.00, kemudian distribusi dialihkan ke wilayah lainnya. Tim gabungan juga diterjunkan setiap hari untuk merespons laporan dan keluhan pelanggan di lapangan.

Murjani mengatakan perusahaan berharap hujan segera turun, terutama di wilayah hulu. Curah hujan di kawasan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan kadar garam pada sumber air baku sehingga pengambilan air dari sumber yang saat ini terdampak dapat kembali dilakukan. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com