Hormuz dan Bab al-Mandeb Terancam, Dunia Hadapi Risiko Baru

Perebutan Selat Bab al-Mandeb dalam eskalasi terbaru perang Yaman meningkatkan risiko gangguan terhadap pelayaran, pasokan energi, dan perdagangan internasional, terutama jika bersamaan dengan gangguan di Selat Hormuz.

SANAA – Perebutan kendali Selat Bab al-Mandeb menjadi salah satu titik paling strategis dalam eskalasi terbaru perang Yaman. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional berupaya merebut wilayah yang dikuasai kelompok Houthi, sementara kelompok yang didukung Iran itu terus berusaha memperluas pengaruhnya ke jalur pelayaran Laut Merah.

Pertempuran yang kembali meningkat pekan ini berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Taiz, al-Bayda, dan al-Jawf yang menjadi salah satu jalur menuju Sanaa, ibu kota yang dikuasai Houthi. Kondisi tersebut menandai fase pertempuran paling sengit sejak gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan perang selama delapan tahun pada 2022.

Pemerintah Yaman melancarkan serangan terhadap Houthi, sedangkan kelompok tersebut menyatakan telah memukul mundur sebagian gerakan pasukan pemerintah dan melakukan serangan terhadap Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman. Situasi itu berlangsung di tengah konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Salah satu sasaran utama pemerintah Yaman adalah mengamankan Selat Bab al-Mandeb, jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kawasan tersebut menjadi semakin penting setelah Iran membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz pada awal konflik dengan AS dan Israel.

“Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb sama-sama mengalami gangguan serius pada waktu yang bersamaan, dampaknya akan meluas jauh melampaui Yaman atau Arab Saudi – hal itu akan menjadi masalah besar bagi keamanan energi dan perdagangan internasional,” kata analis politik Saudi, Khaled Batarfi, kepada Al Jazeera, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Kamis, (10/09/2026).

Houthi sebelumnya telah berulang kali menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah sejak 2023. Menurut analis, kelompok tersebut memiliki kemampuan untuk mengancam pelayaran komersial dan militer tidak hanya di Laut Merah, tetapi juga Teluk Aden dan sebagian Laut Arab.

Pemerintah Yaman menilai penguasaan Bab al-Mandeb penting untuk mengurangi kemampuan Houthi menggunakan jalur tersebut sebagai instrumen tekanan. Houthi sebelumnya juga sempat menyatakan blokade terhadap kapal-kapal Arab Saudi yang melintasi kawasan itu.

Di tengah perebutan wilayah tersebut, pemerintah Yaman juga berusaha mengubah keseimbangan kekuatan di dalam negeri. Setelah berhasil merebut kembali sejumlah wilayah di Yaman selatan yang sebelumnya tidak dikuasai Houthi dari Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), pemerintah kini mengarahkan kekuatan militernya kepada Houthi.

“Ini kemungkinan besar akan menjadi perang yang berkepanjangan, bukan kampanye militer yang berlangsung singkat,” ujar Mohammed al-Basha, analis berkebangsaan Yaman-Amerika sekaligus pendiri Basha Report, sebuah perusahaan konsultan risiko yang berbasis di AS, kepada Al Jazeera.

Mahjoob Zweiri, profesor politik Timur Tengah di Universitas Qatar, menilai pemerintah Yaman kini berada dalam posisi yang lebih kuat setelah mampu menguasai wilayah yang lebih luas.

“Pemerintah kini mampu menguasai wilayah yang lebih luas dan jumlah milisi di lapangan pun berkurang… satu-satunya pihak lain yang tersisa saat ini adalah Houthi di Sanaa,” ujar Zweiri kepada Al Jazeera.

Pemerintah juga berupaya menampilkan kelompok-kelompok anti-Houthi sebagai kekuatan yang lebih terkoordinasi dengan satu rantai komando militer. Namun, Houthi tetap dinilai sebagai kekuatan tempur yang sulit dikalahkan dalam waktu singkat.

[Houthi] akan berjuang mati-matian alih-alih sekadar menyerah begitu saja,” kata al-Basha.

Jika terdesak dari wilayah yang selama ini dikuasai, Houthi diperkirakan dapat mempertahankan kekuatannya di dataran tinggi bagian utara, terutama di sekitar Saada, Hajjah, Sanaa, dan wilayah sekitarnya.

“Hal itu akan menciptakan konfrontasi yang batas-batas geografisnya jauh lebih jelas antara wilayah inti di utara yang dikuasai Houthi dan wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh pemerintah yang diakui secara internasional beserta sekutunya,” ujar al-Basha.

Konflik regional turut menjadi faktor yang memperbesar peluang eskalasi. Mahjoob Zweiri menyebut negara-negara kawasan semakin menolak keberadaan aktor nonnegara seperti kelompok milisi.

“Ada pandangan luas bahwa keberadaan aktor non-negara—seperti milisi—harus diakhiri di tingkat regional,” kata Zweiri, seraya menambahkan bahwa negara-negara kawasan semakin enggan menerima kelompok-kelompok semacam itu.

“Hal ini juga memengaruhi situasi di Yaman,” jelasnya. “Pemerintah… [telah] mendapat lampu hijau untuk pada dasarnya mengakhiri status quo yang ada saat ini di Yaman.”

Khaled Batarfi menilai konflik antara AS, Israel, dan Iran telah mengubah nilai strategis Yaman karena Houthi tidak lagi hanya menjadi aktor dalam perang saudara, tetapi juga memiliki kemampuan mengaitkan konflik Yaman dengan keamanan pelayaran dan energi kawasan.

“Konfrontasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengubah nilai strategis Yaman,” ujarnya kepada Al Jazeera.

“Houthi tidak lagi beroperasi hanya dalam kerangka perang saudara Yaman; mereka telah menunjukkan kemampuan dan kesediaan untuk mengaitkan medan perang Yaman dengan keamanan Laut Merah, pelayaran internasional, dan infrastruktur energi kawasan.”

Serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi yang menyebabkan puluhan orang terluka juga dinilai berpotensi mengubah konflik domestik Yaman menjadi konfrontasi langsung antara Riyadh dan Houthi.

“Mereka berisiko mengubah kembali konflik ini dari konfrontasi internal Yaman menjadi krisis keamanan langsung antara Arab Saudi dan Houthi,” kata Batarfi.

Namun, meredanya konflik antara Iran dan pihak yang berseberangan dengannya belum tentu mengakhiri pertikaian Saudi-Houthi. Al-Basha menilai Yaman masih memiliki persoalan politik dan dinamika wilayah yang belum terselesaikan.

“bukan berarti konflik Saudi-Houthi akan berakhir begitu saja,” ujar al-Basha. “Yaman memiliki perang yang belum usai, dinamika wilayahnya sendiri, serta tuntutan politiknya sendiri.”

Arab Saudi juga menghadapi dilema karena berupaya mencegah perang berkepanjangan, tetapi pada saat yang sama harus merespons serangan terhadap wilayah, fasilitas sipil, dan infrastruktur energinya.

Houthi dinilai masih mampu memberikan tekanan terhadap Saudi melalui serangan terkoordinasi menggunakan rudal jarak jauh dan pesawat nirawak. Sementara itu, Iran yang tengah menghadapi konflik dengan AS disebut memiliki keterbatasan dalam memberikan dukungan tambahan, tetapi diperkirakan masih dapat mengirim komponen rudal dan pesawat nirawak, bahan bakar olahan, serta komoditas lainnya kepada Houthi.

Ahmed Nagi, analis senior masalah Yaman di International Crisis Group, mengatakan pemerintah kini berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya dan melihat pertempuran terbaru sebagai kesempatan untuk memperluas penguasaan wilayah.

“Pemerintah tampaknya berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya, dan mereka memandang putaran pertempuran ini sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi serta merebut lebih banyak wilayah dari kelompok Houthi,” ujar Nagi kepada Al Jazeera.

Menurut Nagi, pemerintah untuk pertama kalinya menghadapi Houthi di lebih dari satu medan pertempuran dan beralih dari posisi bertahan menjadi menyerang. Pasukan pemerintah juga disebut lebih terkoordinasi serta memiliki akses terhadap persenjataan yang lebih canggih.

Meski demikian, para analis memperkirakan perang tidak akan berakhir dengan cepat. Al-Basha membandingkan kemungkinan perkembangan konflik dengan perang berkepanjangan di Sudan, ketika dua kekuatan menguasai wilayah geografis berbeda dan berhadapan dalam konflik yang mahal.

“Awalnya, ada yang memperkirakan skenario ala Suriah, di mana pertahanan Houthi runtuh dengan cepat seperti halnya jatuhnya rezim Bashar al-Assad,” kata al-Basha, merujuk pada serangan kilat bulan Desember 2024 yang menggulingkan al-Assad.

“Sebaliknya, situasi yang mungkin kita hadapi lebih menyerupai skenario ala Sudan, di mana dua blok geografis yang cukup jelas saling berhadapan dalam konflik yang berkepanjangan dan memakan banyak biaya,” ia memperingatkan.

Jika pertempuran terus meluas hingga mengganggu Bab al-Mandeb bersamaan dengan gangguan di Selat Hormuz, konsekuensinya berpotensi menjangkau jauh di luar Yaman. Jalur pelayaran, pasokan energi, dan perdagangan internasional dapat ikut terdampak apabila kedua koridor strategis tersebut mengalami gangguan serius secara bersamaan. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com