Iran Ungkap Kemampuan Deteksi UUV AS di Selat Hormuz

Penangkapan Dive-LD oleh Iran di tengah ketegangan Selat Hormuz memperlihatkan bahwa persaingan dengan AS kini merambah kemampuan pengawasan dan teknologi bawah laut.

TEHERAN – Selat Hormuz kini menjadi arena adu kemampuan pengawasan bawah laut setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penangkapan kendaraan bawah air nirawak (unmanned underwater vehicle/UUV) milik militer Amerika Serikat (AS). Iran menyebut keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa sistem pengawasan yang dimilikinya mampu mendeteksi dan menguasai wahana bawah laut canggih di jalur perairan strategis tersebut.

Wahana yang diidentifikasi sebagai Dive-LD itu dikembangkan perusahaan teknologi pertahanan AS, Anduril Industries. IRGC menyebut kendaraan tersebut termasuk salah satu kapal selam pintar nirawak paling modern milik militer AS dan telah diserahkan kepada Washington pada 2025.

Dalam rekaman yang dirilis IRGC pada Selasa, wahana berbentuk silinder berwarna abu-abu metalik itu terlihat menyerupai torpedo. Kendaraan tersebut memiliki panjang sekitar 5,8 meter, lebar 1,2 meter, dan berat sekitar 2,7 ton.

Menurut IRGC, Dive-LD dapat beroperasi di bawah permukaan laut hingga 10 hari dan mencapai kedalaman maksimum 6.000 meter. Wahana tersebut dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari pemetaan dasar laut, operasi intelijen dan pengintaian, inspeksi pipa hingga mendukung peperangan antikapal selam.

Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengatakan penangkapan wahana tersebut menunjukkan kemampuan pengawasan Iran di Selat Hormuz mampu menghadapi teknologi bawah laut yang dikembangkan AS.

“Dominasi atas Teluk Persia berada di tangan para spesialis teknologi muda kami,” tegas Mohebbi, sebagaimana diberitakan SindoNews, Rabu, (09/09/2026).

Mohebbi juga menyampaikan pernyataan yang secara langsung menyasar Washington dengan mengatakan, “Kembalilah ke Teluk Babi (Bay of Pigs),” merujuk pada kegagalan invasi Teluk Babi ke Kuba pada April 1961.

Pernyataan Iran tersebut mendapat respons berbeda dari Komando Pusat AS (United States Central Command/CENTCOM). Washington berupaya mengecilkan arti insiden tersebut dengan menyebut wahana yang diperoleh Iran merupakan model lama yang mengalami malfungsi.

“tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia,” ujar Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan.

Perbedaan klaim antara Teheran dan Washington menunjukkan bahwa insiden Dive-LD bukan semata persoalan hilangnya satu kendaraan bawah laut. Penguasaan terhadap wahana tersebut berpotensi menjadi bagian dari pertarungan informasi mengenai seberapa efektif kemampuan deteksi, pemantauan, dan perlindungan masing-masing pihak di sekitar Selat Hormuz.

Bagi Iran, keberhasilan menangkap UUV AS dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa pengawasan terhadap salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia tetap berada dalam jangkauan militernya. Sebaliknya, bagi AS, penegasan bahwa wahana tersebut tidak membawa sistem sensitif merupakan upaya meredam kekhawatiran mengenai kemungkinan teknologi atau informasi penting jatuh ke tangan Iran.

Insiden itu berlangsung ketika hubungan kedua negara kembali mengalami eskalasi. Pada Selasa malam, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan balasan atas serangan AS sebelumnya terhadap kapal tanker minyak Iran di dekat Pulau Kharg.

IRGC kemudian mengeluarkan “peringatan mendesak” kepada awak kapal tanker yang berada di sekitar dermaga dan area labuh jangkar Bahrain serta Kuwait agar segera meninggalkan kapal mereka untuk mengantisipasi potensi serangan.

Iran juga menyatakan penangkapan kendaraan bawah air tersebut memperkuat klaim bahwa kemampuan pengawasannya di Selat Hormuz dapat mendeteksi aktivitas militer asing. Jalur sempit itu menjadi sangat penting dalam konflik karena berfungsi sebagai salah satu koridor utama pelayaran dan distribusi energi dunia.

Iran menutup Selat Hormuz setelah dimulainya gelombang terbaru konflik dengan AS dan Israel pada 28 Februari. Teheran kemudian menyepakati periode pembukaan kembali selama 60 hari bersama Washington melalui nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni.

Namun, Iran menyatakan pelanggaran terhadap kesepahaman tersebut membuatnya kembali memberlakukan penutupan jalur perairan. Teheran mensyaratkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah ketentuan, termasuk pencabutan blokade angkatan laut dan ekonomi AS, penghentian agresi secara permanen di seluruh lini termasuk Lebanon, serta kejelasan mengenai persoalan blokade Yaman.

Dengan demikian, keberadaan Dive-LD di tengah ketegangan Selat Hormuz memperlihatkan bahwa persaingan Iran dan AS tidak hanya berlangsung melalui rudal dan kapal perang. Kemampuan mendeteksi serta mengendalikan aktivitas bawah laut juga menjadi bagian penting dalam perebutan keunggulan strategis di jalur perairan tersebut. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com