Kabut asap dari kebakaran lahan di Kabupaten Banjar kembali menyelimuti Banjarmasin dan semakin mengganggu aktivitas serta pernapasan warga, sementara BPBD mencatat 45 kejadian karhutla lokal sejak pertengahan Juli.
BANJARMASIN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah sekitar kembali menyelimuti Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (11/09/2026). Kondisi yang disebut semakin pekat mulai mengganggu aktivitas warga hingga memicu keluhan kesulitan bernapas dan batuk akibat paparan asap.
Salah seorang warga Banjarmasin, Rauf, yang tinggal di kawasan Jalan Ahmad Yani Kilometer 6, mengaku kabut asap yang muncul hampir setiap hari belakangan ini semakin mengganggu. Ia menilai kondisi pada Jumat lebih parah dibandingkan hari sebelumnya.
“Ini kok tiap hari tambah parah. Kemarin enggak setebal ini. Hari ini malah tambah tebal. Napas tambah susah. Aktivitas terhambat,” keluh Rauf, sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat, (11/09/2026).
Rauf mengaku pernah mengalami sesak napas dan batuk setelah terpapar kabut asap. Di tengah kondisi tersebut, ia hanya berharap kualitas udara segera membaik agar kesehatan masyarakat tidak semakin terganggu.
“Mau protes juga protes kemana. Kami ini warga hanya bisa pasrah. Ya banyak berdoa aja supaya kita tetap sehat,” ujarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin Husni Thamrin mengatakan, kabut asap yang menyelimuti Banjarmasin hampir setiap hari sebagian merupakan kiriman dari kebakaran lahan di daerah sekitar, termasuk Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
Menurut Husni, kabut asap yang terjadi pada Jumat berasal dari kebakaran lahan di wilayah Tembikar, Kabupaten Banjar, yang berbatasan dengan Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Kebakaran berlangsung sejak malam sebelumnya hingga Jumat pagi.
“Kabut asap dari kejadian kebakaran lahan di Wilayah Tembikar. Kabupaten Banjar yang berbatasan dengan Kelurahan Pemurus Dalam Kecamatan Banjarmasin Selatan yang terjadi tadi malam hingga pagi tadi,” ujar Husni saat dikonfirmasi, Jumat, (11/09/2026).
Husni tidak menampik bahwa karhutla juga terjadi di wilayah Banjarmasin. Namun, menurut dia, kejadian di dalam kota relatif berskala kecil sehingga tidak menghasilkan kabut asap sebesar yang berasal dari wilayah tetangga. Kebakaran juga disebut dapat segera ditangani sehingga luas lahan terdampak relatif terbatas.
“Di Banjarmasin ada 45 kejadian kebakaran lahan dengan luasan 3,8 hektar yang terjadi dari Tanggal 15 Juli sampai dengan 6 September 2026,” jelas Husni.
Dengan kabut asap yang terus muncul dan mulai menimbulkan keluhan kesehatan, kondisi tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama kelompok rentan. Pengendalian karhutla di wilayah Banjarmasin dan daerah sekitarnya menjadi penting untuk menekan paparan asap agar tidak semakin mengganggu kesehatan serta aktivitas warga. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan