Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Kemenkes Evaluasi Rumah Sakit

Kemenkes menyoroti persoalan infeksi dan kebersihan rumah sakit setelah Jabar tercatat memiliki angka kematian ibu dan anak tertinggi di Indonesia.

JAKARTA – Masalah infeksi dan buruknya pengelolaan kebersihan rumah sakit menjadi perhatian pemerintah setelah Jawa Barat (Jabar) tercatat sebagai provinsi dengan angka kematian ibu dan anak tertinggi di Indonesia. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan persoalan tersebut ditemukan bahkan di rumah sakit yang telah mengantongi akreditasi paripurna.

Budi mengungkapkan Indonesia masih mencatat sekitar 30 ribu kematian bayi dan 4 ribu kematian ibu setiap tahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang masih memprihatinkan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

“Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya. Sesudah kita lihat di Jawa Barat, Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna,” ujar Budi dalam rapat di Komisi IX DPR, Senin (14/9), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (15/09/2026).

Menurut Budi, terdapat tiga kota dan tiga kabupaten di Jabar yang memiliki tingkat kematian ibu dan anak paling tinggi. Namun, pemerintah belum membeberkan nama wilayah maupun jumlah kematian yang tercatat di masing-masing daerah tersebut.

Ia mengatakan sebagian besar kasus kematian terjadi ketika pasien ibu dan anak sedang mendapatkan penanganan di rumah sakit. Kondisi itu menjadi perhatian karena fasilitas kesehatan yang bersangkutan telah masuk kategori akreditasi paripurna.

“Ada kabupaten yang ini, dan kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata apa kebersihan rumah sakitnya itu enggak bagus,” ujar Budi.

Temuan tersebut membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan perhatian khusus terhadap rumah sakit dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Pemerintah memberikan waktu sekitar satu tahun agar fasilitas kesehatan terkait melakukan pembenahan dan meningkatkan mutu pelayanan.

“Jadi semua rumah sakit-rumah sakit yang tinggi dari sisi kematian ibu bayinya, kita udah list dan kita akan dampingi,” katanya.

Selain persoalan kebersihan, Kemenkes juga akan menggunakan sejumlah indikator untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas layanan rumah sakit. Salah satu indikator yang disebut Budi adalah antimicrobial resistance atau resistansi antimikroba.

“Tapi kita akan masukkan indikator-indikator seperti tadi. Nah misalnya indikator mengenai antimicrobial resistance, nah itu kan ada indikatornya. Kita ukurnya benar-benar seperti itu, dan ini bisa dirubah ya,” imbuh Budi.

Langkah pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong rumah sakit melakukan perbaikan nyata, terutama dalam pencegahan infeksi dan peningkatan kualitas penanganan pasien ibu serta bayi. Evaluasi terhadap indikator layanan juga diharapkan membantu pemerintah menekan angka kematian dan memastikan akreditasi rumah sakit diikuti kualitas pelayanan yang memadai. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com