CBO memperkirakan AS telah menggunakan setengah hingga dua pertiga persediaan rudal pencegat tertentu sejak Juni 2025 dan membutuhkan sedikitnya lima tahun untuk memulihkan stoknya.
WASHINGTON, D.C. – Persediaan rudal pencegat Amerika Serikat (AS) disebut telah berkurang secara signifikan setelah digunakan dalam konflik dengan Iran. Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office/CBO) memperkirakan AS kemungkinan telah menggunakan antara setengah hingga dua pertiga persediaan rudal pencegat tertentu sejak Juni 2025, sementara pengisian kembali stok diperkirakan membutuhkan sedikitnya lima tahun.
Rudal yang masuk dalam perhitungan tersebut mencakup pencegat untuk sistem pertahanan Patriot, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), Standard Missile-3 (SM-3), dan Standard Missile-6 (SM-6). CBO memperkirakan persediaan yang berkurang tersebut akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan meski laju produksi ditingkatkan.
Perkiraan itu muncul setelah penggunaan amunisi dalam operasi militer AS di Timur Tengah. CBO memperkirakan biaya operasi hingga 1 Agustus 2026 mencapai sekitar US$38 miliar, sedangkan penggantian amunisi yang telah digunakan membutuhkan sekitar US$21,7 miliar. Temuan tersebut diberitakan CNN Indonesia, Rabu, (16/09/2026).
Dari kebutuhan penggantian amunisi tersebut, sekitar US$13,1 miliar dialokasikan untuk rudal pencegat, US$7,3 miliar untuk rudal jelajah serangan darat, dan US$1,2 miliar untuk jenis amunisi lainnya. CBO menyebut penggantian amunisi menjadi komponen biaya terbesar dalam operasi tersebut.
CBO memperkirakan berkurangnya persediaan rudal pencegat dapat menjadi persoalan apabila AS menghadapi konflik lain yang melibatkan lawan dengan persediaan rudal balistik dan rudal jelajah dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat kemampuan produksi dan pengisian kembali persediaan menjadi bagian penting dalam kesiapan pertahanan AS.
Keterbatasan persediaan juga berkaitan dengan kapasitas industri pertahanan. Laporan inspektur jenderal Departemen Perang AS yang dikutip dalam pemberitaan menyebut penggunaan amunisi selama operasi telah menyebabkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri dalam memasok kembali amunisi.
“Pengeluaran amunisi untuk Operasi Enduring Freedom (OEF) telah mengakibatkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pemasokan kembali amunisi,” demikian laporan inspektur jenderal departemen kepada Kongres, seperti dikutip Middle East Eye (MEE).
Selain persediaan amunisi, laporan inspektur jenderal juga mencatat kerusakan pada sejumlah aset militer AS. Laporan tersebut menyebut pesawat tempur F-15 hancur, satu pesawat tempur F035 rusak, tujuh pesawat tanker KC-135 rusak, serta sekitar 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper hancur.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada fasilitas AS di sejumlah negara Timur Tengah. Ratusan bangunan dan struktur di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania disebut mengalami kerusakan atau kehancuran akibat serangan Iran.
CBO menyebut pengisian kembali persediaan tidak hanya membutuhkan anggaran besar, tetapi juga waktu. Dengan perkiraan pemulihan sedikitnya lima tahun, kemampuan produksi industri pertahanan menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa cepat stok rudal pencegat AS dapat kembali ke tingkat sebelum konflik.
Di sisi lain, biaya operasi juga masih dapat bertambah apabila konflik berlanjut. CBO memperkirakan operasi tersebut dapat menelan sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar per bulan setelah 1 Agustus, dengan pengeluaran yang lebih tinggi apabila intensitas pertempuran meningkat. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan