Tewasnya sopir travel Aris Sanda dan masih disanderanya tujuh perempuan mendorong tuntutan agar pemerintah memperkuat perlindungan serta memastikan keselamatan warga sipil di wilayah rawan Papua.
JAKARTA – Rentetan kekerasan bersenjata di Papua kembali menempatkan warga sipil dalam situasi rawan setelah seorang sopir travel tewas dan sejumlah perempuan dilaporkan masih disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kondisi tersebut memunculkan tuntutan agar keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam setiap langkah penanganan konflik di wilayah tersebut.
Anggota Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fauqi Hapidekso menilai keselamatan warga sipil tidak boleh terabaikan di tengah upaya pemerintah dan aparat menangani kekerasan bersenjata. Menurut dia, masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik tetap memiliki hak untuk hidup, bekerja, bepergian, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman.
“Keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas. Jangan sampai masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik justru menjadi korban. Mereka memiliki hak untuk hidup aman, bekerja, bepergian dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut,” kata Fauqi dalam keterangannya, sebagaimana dilansir Kompas, Minggu, (20/09/2026).
Fauqi mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menyangkut kemanusiaan. Karena itu, ia meminta kepolisian dan pemerintah bergerak cepat dalam upaya penyelamatan, tetapi tetap mengedepankan perhitungan matang agar operasi penanganan tidak menimbulkan korban tambahan.
Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi kepada keluarga korban. Menurutnya, pihak keluarga perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi dan perkembangan penanganan agar tidak terus berada dalam ketidakpastian.
“Di mana pun mereka berada, mereka adalah warga negara yang hak hidup dan keselamatannya harus dilindungi. Tidak boleh ada warga yang merasa bahwa ketika mereka berada di wilayah tertentu, nyawa mereka menjadi tidak berharga,” tegasnya.
Perhatian tersebut mencuat setelah Aris Sanda, seorang sopir travel asal Toraja, menjadi korban kekerasan ketika membawa logistik melalui jalur Wamena-Mbua, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Ia sebelumnya dilaporkan disandera KKB sebelum ditembak.
Jenazah Aris kemudian ditemukan di dalam kendaraan yang telah dibakar di sekitar Danau Habema. Peristiwa tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga yang menjalankan aktivitas pekerjaan maupun mobilitas di kawasan yang memiliki risiko keamanan tinggi.
Selain kasus tersebut, tujuh perempuan juga dilaporkan masih berada dalam penyanderaan kelompok bersenjata di Distrik Jila, Kabupaten Mimika. Sebelumnya, sembilan perempuan dilaporkan diculik sejak 17 Agustus 2026.
Dalam perkembangan penanganan kasus itu, satu korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sedangkan satu korban lainnya ditemukan meninggal dunia. Sementara itu, tujuh perempuan lainnya masih dilaporkan berada dalam penyanderaan.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap warga sipil menjadi salah satu persoalan penting dalam penanganan konflik bersenjata di Papua. Kecepatan tindakan aparat, ketepatan langkah penyelamatan, serta penyampaian informasi kepada keluarga korban menjadi bagian yang diharapkan dapat diperkuat untuk mencegah bertambahnya korban dari kalangan masyarakat sipil. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan