Sembilan perempuan yang diduga dibawa paksa kelompok bersenjata dari Distrik Jila, Mimika, belum kembali hingga 20 September 2026 dan keberadaan mereka masih ditelusuri aparat.
PAPUA TENGAH – Keberadaan sembilan perempuan yang diduga dibawa paksa kelompok bersenjata dari Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah (Papua Tengah), hingga kini belum diketahui secara pasti. Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Puspen TNI) menyatakan para korban belum kembali, sementara upaya penelusuran terhadap keberadaan mereka masih berlangsung.
Kepala Puspen TNI, Muhammad Nas, membenarkan bahwa sembilan warga yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban penyanderaan masih belum kembali. Pernyataan itu disampaikannya di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Minggu (20/09/2026).
“Iya, itu masih disandera, belum kembali,” kata Muhammad Nas, sebagaimana diberitakan Kompas, Minggu (20/09/2026).
Sembilan warga tersebut seluruhnya perempuan dengan rentang usia 13 hingga 17 tahun berdasarkan informasi awal yang disampaikan Kepolisian Resor (Polres) Mimika. Mereka disebut berasal dari sejumlah kampung di sekitar Jila dan terdiri atas anak-anak serta perempuan muda.
Kapolres Mimika sebelumnya menyampaikan bahwa informasi mengenai dugaan penyanderaan diterima dari masyarakat. Saat itu, aparat masih melakukan pendalaman untuk memastikan identitas dan keberadaan para korban. Informasi mengenai sembilan korban kemudian diperoleh dari pihak keluarga.
Daftar yang disebut dalam laporan tersebut terdiri atas Nemerina Wamang, 17 tahun, yang disebut sedang hamil muda; Alin Mesawarol, siswi kelas VI sekolah dasar (SD); Nopi Aim, siswi kelas IV SD; Opinte Mesawaro, siswi kelas III SD; Yonita Senawatme, 18 tahun; Meria Nibilingame, 15 tahun; Wena Katagame, 18 tahun; Ilimin Onawame, 18 tahun; dan Miante Nibilingame, 13 tahun.
Selain persoalan keberadaan para korban, TNI juga menanggapi klaim kelompok bersenjata yang menyebut warga sipil yang menjadi korban penembakan sebagai mata-mata TNI. Muhammad Nas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai upaya untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
“Itulah kelakuan mereka, anak-anak kecil intelijen dari mana? Itu kan klaim mereka aja untuk menakut-nakuti kita semua, masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, aparat gabungan telah melakukan langkah penanganan setelah menerima informasi dugaan penyanderaan. Polres Mimika mengirim personel untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memperkuat pengamanan di Distrik Jila. TNI juga menyatakan telah melakukan pengejaran terhadap kelompok yang diduga membawa paksa sembilan warga tersebut.
Kondisi geografis Jila yang berada di kawasan pegunungan menjadi salah satu tantangan dalam pengerahan personel. Polisi menyebut proses investigasi diperlukan untuk mengungkap identitas kelompok yang diduga membawa para warga serta memastikan rangkaian kejadian berdasarkan bukti di lapangan.
Hingga Minggu (20/09/2026), sembilan perempuan tersebut dilaporkan belum kembali. Aparat masih melakukan penelusuran terhadap keberadaan mereka dan mendalami informasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan