Tol Laut Jadi Peluang Tana Tidung Perluas Pasar Komoditas Lokal

Pemkab Tana Tidung memetakan komoditas lokal untuk memanfaatkan alokasi lima kontainer Tol Laut sekaligus mendorong realisasi pelabuhan agar KTT dapat menjadi titik distribusi dan singgah.

TANA TIDUNG – Kabupaten Tana Tidung (KTT) berpeluang memperluas perannya dalam program Tol Laut, dari semula sebagai daerah tujuan distribusi menjadi wilayah yang ikut memasok komoditas lokal ke daerah lain. Peluang tersebut akan dipetakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Tidung seiring alokasi awal lima kontainer Tol Laut untuk KTT pada tahun depan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) KTT M. Arief Prasetiawan mengatakan, kuota tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga membuka ruang bagi pengiriman komoditas dari KTT ke daerah tujuan.

“Jadi sebenarnya kita tidak hanya mendatangkan barang, tetapi juga bisa mengirim barang ke sana. Kita perlu petakan apa yang bisa kita kirim balik,” ujar Arief, Senin (21/09/2026), sebagaimana diberitakan Radar Tarakan, Senin, (21/09/2026).

Pemkab KTT akan mengidentifikasi berbagai potensi barang yang memiliki peluang untuk dikirim melalui skema Tol Laut. Langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Bupati KTT Ibrahim Ali, dengan mempertimbangkan potensi komoditas lokal dan kebutuhan pasar di daerah tujuan.

Hasil hutan dan sejumlah komoditas lokal lainnya menjadi bagian yang akan dikaji. Pemetaan diperlukan untuk menentukan jenis barang yang layak dikirim sekaligus melihat peluang pemanfaatan ruang kontainer yang tersedia.

Menurut Arief, peluang tersebut semakin terbuka karena kuota kontainer untuk Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini baru terisi sekitar 30 persen. Artinya, masih terdapat kapasitas yang belum termanfaatkan dan dapat menjadi ruang bagi pengiriman komoditas dari daerah.

“Ini peluang juga untuk mendapatkan tambahan kuota,” kata Arief.

Namun, optimalisasi Tol Laut di KTT masih menghadapi persoalan konektivitas. Lima kontainer yang dialokasikan saat ini masih dikirim melalui Pelabuhan Tarakan sebelum diteruskan ke KTT menggunakan moda transportasi lanjutan.

Pengangkutan dari Tarakan ke KTT melibatkan pihak ketiga sebagai bagian dari proses distribusi. Kondisi tersebut membuat keberadaan pelabuhan di KTT menjadi salah satu faktor penting untuk mengembangkan peran daerah dalam jaringan Tol Laut.

Arief mengatakan, apabila pembangunan atau realisasi pelabuhan di KTT terwujud, pemerintah daerah dapat kembali mengusulkan wilayah tersebut sebagai pelabuhan singgah Tol Laut. Dengan demikian, distribusi barang ke dan dari KTT tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Pelabuhan Tarakan.

“Kalau KTT punya pelabuhan, kita bisa ajukan kembali menjadi pelabuhan singgah Tol Laut. Tidak hanya menjadi pelabuhan singgah, tetapi bisa menjadi solusi logistik untuk Kaltara, bahkan Kaltim Berau,” pungkasnya.

Pemkab KTT kini memiliki dua kepentingan yang dapat dikembangkan melalui program tersebut, yakni memastikan kebutuhan masyarakat tetap terdistribusi sekaligus membuka akses pasar bagi komoditas lokal. Jika dukungan infrastruktur dan pemetaan komoditas dapat berjalan, Tol Laut berpotensi memperluas konektivitas perdagangan KTT dengan wilayah lain di kawasan Kalimantan. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *