Angkatan Laut AS mengungkap delapan upaya bunuh diri selama penugasan USS Abraham Lincoln selama 286 hari tanpa kembali ke daratan, meski tidak ada personel yang meninggal akibat bunuh diri.
WASHINGTON – Penugasan selama 286 hari tanpa kembali ke daratan menjadi sorotan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengungkap terdapat delapan upaya bunuh diri dalam kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln selama menjalankan misi di kawasan Timur Tengah. Tidak ada personel yang meninggal akibat bunuh diri dalam periode tersebut.
Informasi itu disampaikan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao melalui surat kepada Senator Demokrat Kirsten Gillibrand. Surat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan Gillibrand mengenai kondisi personel yang berada dalam kelompok serang USS Abraham Lincoln.
“Sejak awal penugasan Lincoln, telah terjadi total delapan upaya bunuh diri di seluruh kelompok serang,” tulis Cao dalam surat tersebut.
Cao menegaskan tidak terdapat kasus bunuh diri yang berujung kematian selama kapal menjalani penugasan.
“Tidak ada kasus bunuh diri di atas kapal selama penugasan ini,” tegas Cao.
Surat itu juga mengungkap sejumlah insiden yang terjadi selama masa penugasan. Salah satunya melibatkan seorang pelaut dari sayap udara yang jatuh ke laut dari kapal pada awal Agustus.
Pelaut tersebut berhasil dievakuasi melalui operasi pencarian dan penyelamatan menggunakan helikopter. Setelah diselamatkan, ia dibawa keluar dari kapal untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.
Insiden lainnya terjadi pada Maret. Seorang pelaut dilaporkan berupaya melompat ke laut, tetapi tindakannya berhasil dicegah oleh rekan-rekannya. Pelaut tersebut kemudian dikembalikan ke pangkalan asal.
USS Abraham Lincoln sebelumnya meninggalkan California pada November 2025 untuk menjalankan misi di Laut China Selatan. Dalam perkembangan berikutnya, kapal itu dialihkan ke kawasan Timur Tengah menjelang serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026.
Kapal induk tersebut baru tiba di Thailand pada awal September 2026 setelah menjalani penugasan selama 286 hari di laut. Durasi panjang tanpa jeda kembali ke daratan itu kemudian menjadi bagian dari perhatian terhadap kondisi personel yang menjalankan misi.
Selama penugasan, muncul laporan mengenai berbagai persoalan kehidupan di kapal, termasuk kekhawatiran terkait kesehatan mental personel, keterbatasan makanan, dan kondisi kebersihan. Kekhawatiran tersebut turut disampaikan keluarga prajurit dan sejumlah anggota parlemen AS pada Agustus.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah adanya persoalan serius di kapal tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyatakan kondisi di USS Abraham Lincoln telah “disalahartikan”.
Pengungkapan delapan upaya bunuh diri itu menambah perhatian terhadap kondisi personel setelah menjalani penugasan laut dalam waktu panjang. Pemerintah AS kini menghadapi sorotan untuk memastikan keselamatan dan dukungan terhadap personel yang menjalankan misi militer dalam durasi panjang, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (24/09/2026). []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan