Museum Tibet Buka Arsip Kesaksian Protes Lhasa 1987-1989

Museum Tibet di Dharamshala menghadirkan foto, dokumen, dan kesaksian saksi untuk merekam kembali rangkaian protes Tibet pada 1987 hingga 1989.

DHARAMSALA – Museum Tibet di Dharamshala, India, membuka pameran sementara yang mengandalkan foto, dokumen, dan kesaksian langsung untuk merekam kembali rangkaian aksi protes Tibet pada 1987 hingga 1989. Pameran yang dibuka pada 14 September 2026 itu menghadirkan kembali pengalaman para saksi yang berada di Lhasa ketika demonstrasi dan tindakan penindakan berlangsung.

Pameran bertajuk Reflections on the 40th Anniversary of the New Generation’s Peaceful Protest Movements (1987/1988/1989) tersebut diresmikan Sikyong Penpa Tsering, kepala pemerintahan Tibet di pengasingan. Acara pembukaan juga dihadiri mantan tahanan politik, warga asing yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, serta warga Tibet yang memiliki pengalaman langsung dengan pergolakan pada periode itu.

Prosesi pembukaan diawali dengan menyalakan butter lamp dan pemotongan pita. Materi pameran kemudian membawa pengunjung menelusuri suasana Lhasa pada 1987, ketika para biksu dari Biara Drepung dan Sera turun ke jalan membawa bendera Tibet dan menyuarakan penolakan terhadap tatanan politik yang mereka anggap dipaksakan Beijing.

Dalam narasi pameran, rangkaian aksi tersebut disebut berkembang menjadi lebih dari 150 gelombang demonstrasi di lebih dari 40 lokasi di Tibet. Data itu, menurut materi yang ditampilkan, belakangan diungkapkan seorang pejabat China yang membelot.

Dokumentasi visual menjadi salah satu bagian utama pameran. Dua warga Amerika Serikat, Blake Kerr dan John Ackerly, yang berada di Lhasa ketika demonstrasi berlangsung, menyerahkan foto dan kesaksian mereka untuk menjadi bagian dari rekam sejarah tersebut.

Ackerly disebut sempat ditangkap polisi setelah ditemukan stiker bendera Tibet di tas kameranya. Sementara itu, Kerr membawa kesaksian mengenai tindakan kekerasan yang menurut pengakuannya ia saksikan secara langsung, termasuk kondisi tahanan yang mengalami penyiksaan dan penggunaan pengeras suara oleh aparat untuk menyebarkan propaganda.

Pameran juga menampilkan kesaksian mengenai aksi pada 1 Oktober 1987 yang bertepatan dengan Hari Nasional Republik Rakyat China. Kawasan Barkhor di sekitar Candi Jokhang disebut menjadi salah satu lokasi konsentrasi demonstrasi. Dalam narasi kesaksian tersebut, aparat keamanan digambarkan melakukan pemukulan dan penembakan terhadap warga.

“Tibet Merdeka, Tiongkok Keluar dari Tibet.”

Melalui kamera yang dibawa saat berada di Lhasa, Kerr dan Ackerly mendokumentasikan aksi para biksu, penembakan aparat dari posisi tinggi, serta penggerebekan di permukiman warga. Materi pameran juga memuat kisah mengenai perempuan Tibet yang disebut menjadi korban program aborsi dan sterilisasi paksa berdasarkan kesaksian seorang warga bernama Rinchen.

Rangkaian perlawanan, menurut narasi pameran, tidak berhenti di jalanan. Aksi penentangan juga disebut berlanjut di dalam penjara melalui berbagai bentuk protes yang berujung pada perpanjangan masa hukuman tahanan politik.

Setelah meninggalkan Tibet, Kerr dan Ackerly melakukan perjalanan ke Dharamshala untuk menyerahkan dokumentasi foto dan kesaksian mereka kepada Dalai Lama. Kehadiran mereka dalam pameran menjadi bagian dari upaya menghadirkan perspektif saksi asing terhadap peristiwa yang terjadi di Lhasa.

Pameran tersebut juga menempatkan peristiwa 1987-1989 dalam konteks sejarah Tibet yang lebih panjang. Dalam pidato peresmian, Penpa Tsering mengaitkannya dengan pergolakan pada dekade 1950-an dan 1960-an, Perjanjian 17 Poin pada 1951, serta berbagai persoalan mengenai keberlangsungan budaya Tibet.

Salah satu bagian yang turut disorot ialah “Petisi 70.000 Kata” yang disusun Panchen Lama ke-10 sebagai kritik terhadap kebijakan Partai Komunis China. Penpa Tsering juga menguraikan masa awal pengasingan warga Tibet di India, terbentuknya komunitas Tibet di Dharamshala, serta aktivitas diplomasi Dalai Lama ke berbagai negara sejak 1967.

Kehadiran wisatawan asing di Lhasa pada 1987 dan 1988 dinilai turut membuka akses dokumentasi mengenai kondisi di Tibet kepada masyarakat internasional. Kesaksian dan foto yang mereka bawa kemudian menjadi bagian dari narasi mengenai gerakan protes Tibet di luar wilayah tersebut.

Museum Tibet menyebut pameran ini sebagai sarana edukasi bagi generasi muda Tibet dan pengunjung dari berbagai negara. Melalui arsip foto, dokumen, dan kesaksian personal, penyelenggara berupaya mempertahankan ingatan mengenai periode 1987-1989 sekaligus memperkenalkan konteks sejarahnya kepada generasi berikutnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (24/09/2026). []

Redajsi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *