Founder BIFF Borong Ecoprint Paser: Kreatif dan Bernilai Jual Tinggi

Founder BIFF Yulia Hadi tertarik dengan produk ecoprint binaan Tahura Lati Petangis dan menawarkan peluang kolaborasi dengan desainer untuk memperluas pasar karya UMKM Paser.

PASER – Produk ecoprint karya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Taman Hutan Raya (Tahura) Lati Petangis menarik perhatian Founder Borneo International Fashion Festival (BIFF), Yulia Hadi, dalam kegiatan Business Matching UMKM yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) Kabupaten Paser di Gedung Awa Mangkuruku, Kamis (24/09/2026). Ketertarikan itu membuka peluang kolaborasi dengan desainer untuk membawa karya ecoprint Paser ke pasar mode yang lebih luas.

Dalam kegiatan tersebut, Yulia berkeliling melihat berbagai produk UMKM yang dipamerkan. Salah satu produk yang mencuri perhatiannya ialah Ecoprint Rahayu, produk binaan Tahura Lati Petangis yang dikembangkan masyarakat dari dua desa binaan, salah satunya Desa Petangis.

Yulia kemudian membeli sejumlah produk, mulai dari kain, scarf, hingga blazer. Produk ecoprint tersebut tidak hanya diaplikasikan pada kain dan pakaian, tetapi juga dikembangkan pada tumbler dengan memanfaatkan motif alami sehingga menghasilkan produk yang memiliki karakter berbeda.

Melihat kreativitas para pelaku UMKM tersebut, Yulia menilai produk yang dihasilkan masyarakat Paser memiliki potensi ekonomi yang tinggi.

“Keren banget ya masyarakat Paser ini kreatif-kreatif, dan ini tentu sangat bernilai jual tinggi,” kata Yulia mengungkapkan kekagumannya.

Produk ecoprint itu merupakan bagian dari pembinaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser melalui Tahura Lati Petangis. Salah seorang perajin dari Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Tahura menjelaskan, proses pembuatannya dimulai dengan scouring untuk membersihkan kain dari sisa lilin dan minyak pabrik menggunakan soda ash dan deterjen.

Bahan pewarna yang digunakan sebagian besar berasal dari tumbuhan di sekitar lingkungan masyarakat, seperti daun jati dan daun mangga. Proses pewarnaan juga menggunakan mordan berupa tawas, tunjung, dan kapur yang berfungsi membantu mengunci warna agar lebih stabil.

“ada dua jenis kain yang digunakan untuk ecoprint yakni, kain baisa dan kain blanket. Kain blanket ini adalah kain yang direndam dengan pewarna. Sedangkan kain utamanya, yakni kain ecoprint nya itu yang ditempeli dedaunan atau motif alam”, jelasnya.

Perajin tersebut mengatakan produk ecoprint binaan Tahura Lati Petangis telah mengikuti berbagai kompetisi dan meraih prestasi di tingkat kabupaten maupun nasional. Produk itu juga pernah ditampilkan dalam ajang Jakarta Fashion Week.

“Awalnya hanya produk rumahan saja ya, Alhamdulillah sekarang setelah beberapa tahun berjalan kita sudah berdayakan masyarakat sekitar, dan terakhir kita bawa produk ikut pameran di Jakarta fashion week”, imbuhnya.

Perkembangan usaha tersebut juga memberikan dampak terhadap pemberdayaan masyarakat setempat. Produk tidak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk lembaran kain, tetapi telah dikembangkan menjadi pakaian jadi dengan melibatkan ibu-ibu dari desa sekitar dalam proses menjahit.

Peluang pengembangan pasar semakin terbuka setelah Yulia menawarkan kerja sama antara perajin ecoprint Paser dan desainer yang bekerja dengannya. Para perajin diminta menyiapkan pola ecoprint sesuai kebutuhan desain sehingga motif khas Paser dapat dikolaborasikan dalam produk mode dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk ecoprint Paser untuk meningkatkan kualitas desain, memperluas jejaring pemasaran, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk berbasis potensi alam dan kreativitas masyarakat lokal. []

Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *