Diskominfo Staper Kutim mengoptimalkan KIM di desa serta platform LMS untuk mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan AI, bahaya hoaks, dan kecakapan digital.
KUTAI TIMUR – Dinas Komunikasi Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat literasi digital masyarakat untuk menghadapi pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sekaligus meningkatkan kemampuan warga mengenali informasi palsu atau hoaks di media sosial.
Upaya tersebut dilakukan secara bertahap dengan mengoptimalkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di tingkat desa serta menyiapkan materi pembelajaran melalui platform Learning Management System (LMS) yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim.
Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar mengatakan, perkembangan teknologi AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Menurutnya, dampak teknologi tersebut sangat ditentukan oleh cara masyarakat memanfaatkan dan mengelolanya.
“AI itu menurut saya juga tidak jelek kok. Tergantung dari pemanfaatannya. Kalau digunakan untuk yang positif pasti akan positif. AI enggak mungkin kita musuhin, tapi bagaimana kita mengelola AI,” ujar Ronny Bonar saat di Diskominfo Kutim, Selasa (29/09/2026).
Selain mendorong pemanfaatan AI secara positif, Diskominfo Staper Kutim juga memperkuat penyebaran informasi mengenai bahaya hoaks dan penggunaan teknologi melalui KIM yang dibentuk di desa-desa.
Dari 139 desa di Kutim, saat ini baru sekitar 31 KIM yang terbentuk. Kelompok tersebut diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan informasi dan meningkatkan literasi digital masyarakat hingga tingkat desa.
“Kita mencoba melalui Kelompok Informasi Masyarakat atau KIM yang ada di desa-desa. Walaupun dalam proses baru 31 KIM dari 139 desa, itu kita mencoba sebagai perpanjangan tangan Kominfo untuk memberikan penyampaian informasi tentang hoaks, pemanfaatan teknologi, dan sebagainya,” jelas Ronny.
Ke depan, materi mengenai pemanfaatan AI dan cara mengenali informasi palsu direncanakan masuk dalam modul pembelajaran pada platform LMS Pemkab Kutim.
Untuk menyiapkan materi tersebut, Diskominfo Staper Kutim menggandeng Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta merencanakan keterlibatan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) di Samarinda.
Pengembangan platform pembelajaran digital itu juga diarahkan tetap berjalan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Diskominfo Staper Kutim memanfaatkan teknologi open source serta subdomain yang telah tersedia sehingga inovasi dapat dikembangkan tanpa membutuhkan anggaran besar.
“Saya mencoba untuk bagaimana kita memanfaatkan sebuah momentum bahwa yang namanya efisiensi itu bukan menghambat kita untuk melakukan sebuah perubahan. Kita mencoba bagaimana membuat sebuah inovasi dengan kondisi yang ada sekarang,” tegasnya.
Ronny menyebut aplikasi digital tersebut baru berjalan sekitar dua bulan. Diskominfo Staper Kutim menilai pemanfaatannya menunjukkan perkembangan positif dan akan terus diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan publik serta pembelajaran teknologi.
Penguatan KIM dan pengembangan LMS diharapkan membuat edukasi mengenai AI, hoaks, serta pemanfaatan teknologi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkab Kutim membangun masyarakat yang lebih cakap, kritis, dan adaptif menghadapi perkembangan teknologi digital. []
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan