Qatar Lanjutkan Mediasi, Netanyahu Disebut Penjahat Perang

Qatar menegaskan tetap menjalankan peran mediasi dengan memberikan masukan kepada AS dan Iran meski Doha mengkritik keras tindakan Israel di Gaza dan pernah menjadi sasaran serangan ketika proses perundingan berlangsung.

DOHA – Qatar menyatakan tetap melanjutkan jalur diplomasi dan mediasi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Israel. Perdana Menteri (PM) Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan Doha masih berupaya memberikan masukan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencari jalan keluar dari konflik kawasan.

Sikap tersebut disampaikan Al Thani dalam wawancara dengan jurnalis Inggris Piers Morgan. Dalam kesempatan itu, ia juga mengkritik tindakan Israel di Gaza dan menyebut Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat perang”.

Al Thani, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar, mengatakan serangan terhadap fasilitas sipil di Gaza menjadi salah satu alasan dirinya memberikan penilaian tersebut.

“Tentu saja. Apa yang telah dilakukan di Gaza adalah kejahatan perang, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal ini adalah penjahat perang.”

“Rumah sakit telah menjadi sasaran, sekolah juga telah menjadi sasaran. Apa pun pembenaran dan argumennya, tidak ada yang dapat membenarkan tindakan ini,” imbuh dia, sebagaimana dilansir Aljazeera, Kamis, (01/10/2026).

Pernyataan itu disampaikan ketika Qatar tetap menempatkan peran mediasi sebagai bagian dari pendekatan diplomatiknya. Al Thani mengatakan negaranya berusaha memberikan saran kepada pemerintah AS mengenai cara mencapai solusi, sekaligus menyampaikan masukan kepada pihak Iran.

“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan saran terbaik kepada pemerintah AS mengenai cara mencapai solusi, begitu pula kepada pihak Iran,” katanya.

Al Thani juga mengungkapkan bahwa upaya mediasi Qatar sebelumnya terdampak langsung oleh serangan Israel ke Doha pada September 2025. Serangan tersebut menargetkan pejabat Hamas ketika Qatar tengah menjadi tempat berlangsungnya upaya perundingan.

“Kami diserang oleh Israel saat kami sedang melakukan mediasi,” ujarnya.

“Netanyahu telah melampaui batas, sama seperti dia telah melampaui batas-batas lainnya sebelumnya,” lanjut dia.

Serangan ke Doha tersebut terjadi ketika Qatar menjalankan peran sebagai mediator dalam pembicaraan terkait konflik Gaza. Al Thani menilai serangan terhadap negara yang sedang menjalankan fungsi mediasi merupakan persoalan serius bagi proses diplomasi kawasan.

Dalam wawancara tersebut, Al Thani juga menyampaikan bahwa Qatar tidak akan menghentikan upaya diplomatik meskipun hubungan dengan Israel berada dalam situasi tegang. Menurut dia, jalur komunikasi dan pemberian saran kepada para pihak tetap diperlukan untuk mencari penyelesaian konflik.

Qatar sebelumnya juga terlibat dalam upaya mediasi terkait Gaza. Al Thani mengatakan proses tersebut telah menghadapi berbagai hambatan, termasuk tindakan Israel yang menurutnya mengganggu upaya perundingan.

Pernyataan Al Thani memperlihatkan dua sikap Doha yang berjalan bersamaan, yakni kritik keras terhadap tindakan Israel di Gaza dan keputusan untuk tetap menggunakan jalur diplomasi. Bagi Qatar, peran sebagai mediator tetap dijalankan meskipun negara tersebut sebelumnya menjadi sasaran serangan ketika proses mediasi berlangsung.

Dengan mempertahankan jalur komunikasi dengan AS dan Iran, Qatar berharap upaya diplomasi dapat tetap menjadi sarana untuk mencari penyelesaian atas konflik dan ketegangan yang meluas di kawasan Timur Tengah. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *