Kelompok pro-kemerdekaan di Alberta mengajukan petisi referendum untuk memisahkan diri dari Kanada di tengah dinamika politik dan ekonomi.
EDMONTON – Gelombang tuntutan referendum kemerdekaan mencuat di Provinsi Alberta, Kanada, setelah kelompok pro-pemisahan secara resmi mengajukan petisi kepada pemerintah provinsi pada Senin, mendorong opsi lepas dari Kanada di tengah ketegangan politik dan ekonomi.
Aksi tersebut berlangsung di ibu kota provinsi, Edmonton, ketika para pendukung kemerdekaan berkumpul untuk menyerahkan petisi yang meminta dilaksanakannya referendum guna menentukan masa depan wilayah kaya minyak tersebut.
Provinsi Alberta selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi energi utama di Kanada. Dorongan untuk memisahkan diri dinilai berkaitan dengan kepentingan ekonomi, terutama pengelolaan sumber daya minyak yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi disintegrasi di negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) tersebut. Jika tuntutan ini terus menguat, pemerintah Kanada akan dihadapkan pada tekanan politik yang signifikan terkait keutuhan wilayahnya.
Sejumlah laporan juga menyebut adanya dukungan dari pihak luar terhadap gerakan tersebut, termasuk dari Amerika Serikat (AS), meski belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi hal itu.
Perkembangan ini menandai babak baru dinamika politik di Kanada, dengan Provinsi Alberta berada di pusat perhatian terkait isu kedaulatan dan distribusi sumber daya. Pemerintah pusat diperkirakan akan mengambil langkah strategis untuk merespons tuntutan tersebut demi menjaga stabilitas nasional, sebagaimana diberitakan Sindonews, Selasa, (05/05/2026). []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan