Israel memulai operasi militer besar di Tepi Barat setelah bentrokan antara pemukim dan warga Palestina menewaskan enam orang serta memperburuk situasi keamanan di wilayah pendudukan.
TEPI BARAT – Pemerintah Israel memerintahkan operasi militer berskala besar di Tepi Barat setelah bentrokan yang melibatkan pemukim dan warga Palestina menewaskan enam orang, terdiri atas empat warga Palestina dan dua tentara Israel. Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat (24/07/2026) di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah pendudukan itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menginstruksikan militer untuk segera melaksanakan operasi setelah insiden berdarah yang dipicu masuknya sekelompok pemukim ke kawasan yang disebut dibatasi untuk warga Israel.
Menurut otoritas Israel, kelompok pemukim tersebut memasuki wilayah Tepi Barat untuk melakukan pendakian tanpa koordinasi maupun izin resmi. Saat rombongan mendekati Desa Tell, bentrokan dengan warga Palestina tidak dapat dihindari.
Baku tembak yang kemudian terjadi mengakibatkan empat warga Palestina dan dua tentara Israel, termasuk satu orang yang juga merupakan pemukim, meninggal dunia. Peristiwa tersebut menjadi dasar bagi pemerintah Israel untuk meningkatkan operasi keamanan di kawasan tersebut, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat (25/07/2026).
Di tengah meningkatnya eskalasi, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyampaikan sikap keras dengan menyerukan pembongkaran desa-desa Palestina di wilayah tersebut sebagai respons atas insiden yang terjadi.
Operasi militer yang diperintahkan Netanyahu diperkirakan akan meningkatkan aktivitas pasukan Israel di sejumlah titik di Tepi Barat. Situasi keamanan di kawasan itu pun diperkirakan tetap menjadi perhatian karena berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan