Bukan Sekadar Meracik Kopi, Pelatihan Barista Buka Peluang Kerja Sahabat Tuli

Pelatihan barista yang dilengkapi sertifikasi diharapkan menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas rungu di Balikpapan untuk memperoleh keterampilan sekaligus mengakses peluang kerja di dunia usaha.

BALIKPAPAN – Pelatihan barista menjadi salah satu jalur pemberdayaan bagi penyandang disabilitas rungu di Kota Balikpapan untuk memperoleh keterampilan, sertifikasi, sekaligus membuka peluang masuk ke dunia kerja.

Pelatihan tersebut digelar Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Nurul Hayat Balikpapan bersama Meracik Kopi dan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Balikpapan. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mengapresiasi program tersebut karena dinilai mampu mempertemukan keterampilan peserta dengan kebutuhan dunia usaha.

Kepala Dinas (Kadis) Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, dan Perindustrian (DKUMKMP) Kota Balikpapan Heruressandy Setia Kesuma mengatakan, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas rungu.

Menurut Heruressandy, keterampilan tidak selalu harus diperoleh melalui pendidikan formal. Pelatihan langsung yang disertai sertifikasi dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memasuki dunia kerja sesuai kemampuan yang dimiliki.

“Tidak banyak, tetapi ini membuka peluang bagi warga Kota Balikpapan yang sekiranya belum memiliki keterampilan. Saat ini mereka diberikan sertifikasi khusus dan dilatih langsung oleh owner Meracik Kopi,” kata Heruressandy, Kamis (01/10/2026).

Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, sejumlah peserta bahkan telah mendapatkan peluang untuk direkrut bekerja. Penempatan dapat dilakukan sebagai barista maupun pada posisi lain yang sesuai dengan keterampilan masing-masing.

Pemkot Balikpapan berharap pola pemberdayaan tersebut dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak pelaku usaha. Keterampilan penyandang disabilitas perlu dipertemukan dengan kebutuhan tenaga kerja agar pelatihan tidak berhenti pada pemberian sertifikat.

“Harusnya banyak agregator nanti di Kota Balikpapan yang bisa merangkul kebutuhan kemampuan nonformal kita, sehingga ini bisa dibutuhkan oleh banyak dunia usaha yang ada di Kota Balikpapan,” ujarnya.

Heruressandy menilai setiap penyandang disabilitas memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai minat dan bakat. Selain keterampilan sebagai barista, pelatihan juga dapat diarahkan ke sektor kerajinan, industri kreatif, dan pengolahan produk.

“Semua teman-teman disabilitas itu punya keterampilan. Tidak usah yang formal dulu, kalau minat dan bakatnya juga mengarah ke sana, itu sudah cocok untuk mengikuti banyak jenis pelatihan,” jelasnya.

Selain program pelatihan barista, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Balikpapan juga memiliki kegiatan yang dapat menjadi ruang pengembangan keterampilan, seperti pembuatan manik-manik, motif batik, hingga produk olahan.

Heruressandy mengatakan keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia kerja mulai terlihat. Sejumlah pelaku usaha dan perajin disebut telah merekrut pekerja penyandang disabilitas karena kemampuan dan kesungguhan mereka dalam bekerja.

“Rata-rata informasinya mereka lebih fokus dalam bekerja dikarenakan mereka serius dan mau berlatih. Selanjutnya, apa yang dihasilkan juga tidak kalah dengan teman-teman pekerja normal lainnya,” katanya.

Untuk jenis keterampilan yang lebih formal, Pemkot Balikpapan juga bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Balikpapan dalam memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan untuk bekerja di sektor formal.

Selain mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas, Pemkot Balikpapan juga mengupayakan keterwakilan perempuan dalam berbagai kegiatan. Heruressandy mengatakan keterlibatan perempuan ditargetkan sedikitnya 30 persen, baik dalam kegiatan formal maupun nonformal.

“Semua kegiatan, mau yang formal maupun nonformal, kita harapkan sama seperti kesetaraan gender itu, 30 persen,” pungkasnya.

Melalui pelatihan berbasis keterampilan, sertifikasi, serta keterlibatan dunia usaha, Pemkot Balikpapan berharap peluang kerja bagi penyandang disabilitas semakin terbuka. Kolaborasi pemerintah, lembaga sosial, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha diharapkan mampu mendorong pemberdayaan yang tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menghubungkannya dengan kesempatan kerja nyata. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *