Kesaksian Khim mengungkap perjuangan siswa dan guru bertahan di ruang kelas saat penembakan terjadi di Debsirin Nonthaburi School, Thailand.
BANGKOK – Upaya bertahan hidup para siswa menjadi gambaran paling memilukan dari penembakan massal di Debsirin Nonthaburi School, Thailand, Jumat (7/8). Salah satu siswa yang selamat, Khim, bersama teman-teman sekelasnya bersembunyi di ruang kelas dengan mematikan lampu dan menghalangi pintu menggunakan meja ketika suara tembakan terus terdengar dari sekitar sekolah.
Khim menceritakan pengalaman tersebut pada Sabtu (8/8), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (09/08/2026). Saat ledakan dan suara tembakan pertama terdengar, ia bersama teman-temannya sempat mengintip dari jendela kelas sebelum menyadari situasi semakin berbahaya. “Saya dengan beberapa tembakan dan merasa kami tak akan selamat,” kata Khim.
Seorang guru kemudian mengambil langkah untuk melindungi para siswa dengan memindahkan meja ke depan pintu, mematikan lampu, dan mengarahkan mereka berkumpul di sudut ruang kelas di Gedung 5. Dalam situasi tersebut, Khim juga menerima pesan dari ibunya yang memperingatkan adanya penembak di sekolah.
“Saya bilang saya tahu, dan saya bilang, ‘Bu jangan telepon saya, karena nada deringnya mungkin akan berbunyi’,” kata dia.
“Lalu, saya mendengar suara ledakan sangat keras. Rasanya seperti tepat di sebelah telinga saya,” imbuh Khim.
Khim dan teman-temannya kemudian mengetahui bahwa terduga pelaku berada hanya beberapa meter dari lokasi mereka bersembunyi. Guru yang mendampingi mereka akhirnya menginstruksikan evakuasi setelah polisi mulai mengamankan sebagian area sekolah.
Ketegangan juga dirasakan keluarga siswa lain yang masih berada di dalam sekolah. Kakak Khim ketika itu bersembunyi di Gedung 4 dan sempat menelepon ayah mereka, Kwan, yang sedang bekerja di rumah sakit. Kwan memperkirakan pelaku menggunakan pistol dan meminta putrinya menghitung suara tembakan sebagai salah satu cara memperkirakan apakah amunisi pelaku telah habis.
“Hitung tembakannya untuk memastikan apakah dia kehabisan peluru,” kata Kwan ke anaknya pada saat kejadian.
Menurut keterangan polisi, terduga pelaku menggunakan setidaknya 26 peluru, sedangkan 34 butir peluru lainnya ditemukan di barang bawaannya. Ketika suara tembakan semakin mendekati lokasi persembunyian putrinya, Kwan menghubungi saluran telepon darurat dan memperoleh informasi bahwa polisi, termasuk unit khusus, telah tiba di sekolah.
“Saya memberi tahu mereka, ‘Saat ini, saya sedang berbicara dengan anak saya melalui telepon. Dia ada di lantai dua, [polisi sedang] memeriksa dan mengamankan ruangan satu per satu dari sisi kanan,'” kata Kwan.
Kwan sempat kehilangan komunikasi dengan putrinya ketika panggilan telepon tiba-tiba terputus. Ia kemudian berdoa hingga beberapa menit kemudian sang putri kembali menghubunginya dan memastikan dirinya tidak terluka. Keluarga tersebut akhirnya berkumpul kembali di rumah mereka di pinggiran Bangkok.
Pengalaman tersebut juga membuat Khim melihat kembali hubungan dengan kakaknya. “Saat bersama, kami selalu bertengkar,” kata Khim tentang kakak perempuannya.
“Tapi melihatnya kali ini, aku belum pernah menyayanginya sebanyak ini sebelumnya.”
Penembakan berlangsung sekitar 40 menit. Berdasarkan keterangan dalam laporan tersebut, pelaku menembak tiga guru dan dua petugas sekolah sebelum mengarahkan senjata kepada dirinya sendiri. Polisi juga menyebut pelaku sebelumnya menembak kakek dan neneknya di rumah sebelum menuju sekolah menggunakan bus.
Peristiwa itu menempatkan keselamatan sekolah dan perlindungan siswa kembali menjadi perhatian di Thailand. Bagi para korban selamat seperti Khim dan keluarganya, pengalaman bersembunyi di tengah rentetan tembakan menunjukkan besarnya dampak tragedi tersebut, bahkan setelah mereka berhasil keluar dari sekolah dalam keadaan hidup. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan