Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, sanksi, aset yang dibekukan, dan kompensasi kerusakan.
TEHERAN – Pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat (AS), termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan jalur strategis tersebut belum akan dibuka kembali sebelum seluruh persyaratan Teheran dipenuhi.
Selain kompensasi, Iran menuntut penghentian perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran juga menyatakan kapal yang melintasi Selat Hormuz dapat dikenai biaya dan tindakan terhadap kapal yang dinilai berusaha menghindari jalur yang ditetapkan.
“Kami mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai musuh menerima semua persyaratan kami… Selat tersebut kini pada dasarnya merupakan medan perang bagi kami dan bukan sekadar jalur perairan,” kata pernyataan IRGC, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (09/08/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembukaan jalur pelayaran strategis itu masih menjadi bagian penting dari tuntutan Iran dalam merespons konflik dengan AS. Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz berada dalam kondisi tertutup sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas dan pengelolaan Selat Hormuz telah mendekati tahap akhir. Namun, ia menegaskan pembukaan jalur tersebut tetap bergantung pada sejumlah persyaratan dan kompensasi yang dituntut Iran atas pelanggaran terhadap kesepakatan Juni.
Araghchi juga membantah bahwa Iran tengah melakukan perundingan langsung dengan AS. Menurut dia, komunikasi kedua negara saat ini hanya berlangsung melalui pertukaran pesan dengan bantuan perantara.
Sehari sebelumnya, Kepala Keamanan Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan sejumlah persyaratan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Tuntutan itu mencakup penghentian perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Iran juga meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mengakhiri sanksi, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Tuntutan tersebut disampaikan dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim.
Di sisi lain, Oman mengecam serangan berulang terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan pembicaraan mengenai pengaturan pelayaran di kawasan tersebut berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif serta meminta semua pihak tidak mengambil langkah yang dapat mengganggu proses negosiasi.
Dalam kesepakatan sebelumnya, Iran dan Oman disebut akan membahas pengaturan masa depan Selat Hormuz bersama negara-negara Teluk lainnya dengan mengacu pada hukum internasional.
Penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari telah berdampak pada jalur pelayaran strategis tersebut dan turut memperburuk ketegangan dalam konflik AS-Iran. Gencatan senjata kedua negara pada April lalu kemudian runtuh setelah serangkaian serangan di jalur laut itu, sementara para mediator masih mendorong kedua pihak kembali pada nota kesepahaman yang dicapai pada Juni sebagai dasar pembicaraan perdamaian. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan