Diserang Iran, Negara-negara Arab Justru Hindari Balasan Militer

Pakar menilai negara-negara Arab memilih menghindari konfrontasi langsung dengan Iran demi menjaga stabilitas ekonomi, investasi, dan keamanan kawasan.

TEHERAN – Sejumlah analis menilai negara-negara Arab di kawasan Teluk memilih tidak membalas serangan Iran secara militer meskipun infrastruktur energi dan fasilitas strategis mereka menjadi sasaran. Sikap tersebut dinilai sebagai upaya menghindari eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan pembangunan jangka panjang di kawasan.

Dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), serta Arab Saudi menjadi sasaran serangan Iran karena dianggap menampung aset militer AS dan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai basis peluncuran operasi militer Washington.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada kilang minyak, pembangkit listrik, hingga fasilitas sektor energi lainnya. Berdasarkan perkiraan Rystad Energy pada April 2026, nilai kerugian akibat konflik telah mencapai sekitar 58 miliar dolar AS atau setara Rp1.036 triliun. Nilai itu belum memperhitungkan kerusakan akibat eskalasi terbaru yang terjadi pada Juli 2026.

Selain merusak infrastruktur, konflik juga berdampak pada sektor pariwisata, penerbangan, serta memicu perpindahan sejumlah warga negara asing (ekspatriat) dari kawasan Teluk.

Peneliti senior Pusat Demokrasi, Pembangunan, dan Supremasi Hukum Universitas Stanford, Hesham Sallam, menilai negara-negara Arab sengaja menghindari balasan militer karena mempertimbangkan konsekuensi yang lebih besar.

“Eskalasi lebih lanjut dengan Iran akan menimbulkan biaya yang tidak ingin ditanggung oleh pemerintah-pemerintah tersebut,” kata Sallam kepada CNN, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (22/07/2026).

Menurut Sallam, negara-negara Teluk selama ini membangun legitimasi domestik maupun internasional melalui agenda pertumbuhan ekonomi, investasi, pengembangan infrastruktur, pariwisata, dan integrasi ke pasar global.

“Konflik yang semakin intensif dengan Iran dapat membahayakan proyek-proyek modernisasi yang telah mereka investasikan secara besar-besaran, baik secara politik maupun finansial,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan pakar Timur Tengah sekaligus mantan Duta Besar Australia untuk Lebanon, Ian Parmeter. Ia menilai negara-negara Arab memahami bahwa keterlibatan langsung hanya akan memperpanjang konflik.

“Mereka harus hidup berdampingan dengan Iran,” ucap Parmeter kepada CNN.

Parmeter menjelaskan, berbeda dengan AS yang berada jauh dari kawasan, negara-negara Teluk akan tetap bertetangga dengan Iran sehingga memiliki kepentingan menjaga stabilitas regional dalam jangka panjang. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com