Kerajinan purun HSU dinilai memiliki daya saing untuk diperluas ke pasar nasional dan internasional, dengan penguatan kemasan menjadi salah satu faktor penting.
HULU SUNGAI UTARA – Produk anyaman purun dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dinilai memiliki peluang menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional, setelah mendapat perhatian dalam ajang Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Otonomi Expo 2026 di Tangerang, Banten.
Potensi tersebut terlihat dari produk tas berbahan purun yang dipamerkan di Paviliun HSU pada Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kamis (27/8/2026). Produk tersebut memadukan teknik anyaman tradisional dengan desain modern dan konsep ramah lingkungan.
Selain mempertahankan karakter budaya daerah, tas purun itu memiliki tekstur khas, dinilai tahan lama, serta dilengkapi ornamen yang menyesuaikan selera pasar masa kini. Kehadiran produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kerajinan lokal kepada pasar yang lebih luas.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan HSU Kamarudin mengatakan keikutsertaan dalam pameran tidak hanya bertujuan memperkenalkan produk, tetapi juga membuka peluang pemasaran bagi pelaku usaha lokal.
“Kehadiran kami di sini bukan sekadar pamer, melainkan membuka jalan pemasaran lebih luas dan membuktikan bahwa bahan alami daerah punya nilai ekonomi tinggi,” ujarnya sebagaimana diberitakan Kanal Kalimantan, Jumat, (28/08/2026).
Peluang pengembangan produk tersebut juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel). Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah (Sekda) Kalsel Ariadi Noor menilai produk anyaman purun HSU memiliki perpaduan antara unsur tradisional dan modern yang dapat menjadi modal untuk memperluas pasar.
Menurut Ariadi, pengembangan produk perlu diikuti peningkatan kualitas kemasan agar nilai jual dan daya tariknya semakin kuat ketika dipasarkan ke luar daerah maupun mancanegara.
“Tas ini sudah sangat bagus perpaduan tradisional dan modernnya. Hanya perlu disempurnakan lagi kemasannya (packaging) agar daya tarik belinya makin kuat dan mampu terbang lebih tinggi menembus pasar nasional maupun global,” sarannya Ariadi.
Pameran tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pelaku usaha HSU untuk menguji daya tarik produk kerajinan berbahan alami di hadapan calon konsumen dari berbagai daerah. Dukungan pemerintah daerah diharapkan tidak berhenti pada promosi, tetapi berlanjut melalui penguatan kualitas produk, kemasan, pemasaran, dan inovasi.
Dengan pengembangan tersebut, kerajinan purun tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan budaya HSU, tetapi juga didorong menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar nasional dan global. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan