Festival Luuq Melapeh 2026 memadukan pelestarian budaya, promosi wisata, kegiatan sosial, dan JAM Seri 6 yang diikuti sekitar 400 peserta dari 40 klub serta komunitas.
KUTAI BARAT – Kehadiran sekitar 400 peserta Jelajah Alam Melapeh (JAM) Seri 6 menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat selama Festival Luuq Melapeh 2026 di Kampung Linggang Melapeh, Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Ajang otomotif tersebut sekaligus memperluas promosi wisata alam dan budaya lokal kepada komunitas dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).
JAM Seri 6 yang digelar pada 18 Juli 2026 mencatat jumlah peserta terbanyak sejak pertama kali diselenggarakan. Sekitar 400 peserta dari 40 klub dan komunitas menyusuri jalur sepanjang kurang lebih 70 kilometer dengan medan menantang dan panorama alam Kubar yang masih asri.
Kedatangan peserta dan komunitas otomotif itu turut meningkatkan kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perdagangan, serta layanan masyarakat di sekitar lokasi festival. Dampak ekonomi berganda atau multiplier effect tersebut menjadi salah satu hasil penting dari penyelenggaraan Festival Luuq Melapeh tahun ini.
Selain mengusung olahraga dan petualangan, JAM Seri 6 membawa misi sosial melalui pembagian bantuan bahan kebutuhan pokok kepada masyarakat yang membutuhkan. Master Trek Indonesia yang mewakili peserta mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut dan berharap JAM dapat dikembangkan menjadi agenda berskala nasional hingga internasional.
JAM Seri 6 merupakan bagian dari Festival Luuq Melapeh 2026 yang rangkaian utamanya berlangsung selama delapan hari sejak dibuka secara resmi oleh Bupati Kutai Barat (Kubar) pada 18 Juli 2026. Namun, kegiatan pendahuluan festival telah dimulai sejak 12 Juli 2026 melalui ritual adat di kawasan wisata Jantur Tabalas.
Ketua Panitia Pelaksana Festival Luuq Melapeh 2026 Lucius Marten, sebagaimana dilansir Kominfokubar, Sabtu, (25/07/2026), menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan wujud penghormatan masyarakat kepada alam dan para leluhur.
“Festival ini bertujuan menjadi wadah pelestarian adat dan budaya Dayak Tunjung Rentenuukng, sekaligus ruang kebersamaan, promosi pariwisata daerah, dan penggerak ekonomi kreatif masyarakat Kampung Linggang Melapeh,” ujar Lucius, Sabtu (25/07/2026).
Festival itu juga menghadirkan berbagai perlombaan seni budaya dan permainan tradisional yang diikuti ratusan peserta. Kegiatan tersebut meliputi lomba tari tradisional, tari kreasi, peragaan busana adat, kreasi Kriookng, serta permainan khas daerah seperti Beempeek, Belogo, Berijoq, Beberek, Intootn, Nutuuk, dan Toak.
Rangkaian penutupan berlangsung meriah dengan penampilan Komunitas Kratukng Balok Asa, pembagian hadiah, pengundian hadiah hiburan, tradisi makan bersama, dan pertunjukan bagi ribuan masyarakat yang hadir.
Malam puncak juga diisi penayangan video profil Kampung Linggang Melapeh, pertunjukan seni bertajuk “Hujan Bintang-Bintang”, serta penampilan sejumlah artis Kubar.
Keberhasilan memadukan adat, seni, olahraga, wisata, kegiatan sosial, dan pemberdayaan UMKM diharapkan menjadikan Festival Luuq Melapeh sebagai agenda tahunan yang mampu memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat Linggang Melapeh. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan