Kekecewaan Gen Z India meningkat akibat sulitnya memperoleh pekerjaan layak meski jumlah lulusan terus bertambah, memaksa pemerintah menghadapi persoalan pendidikan dan ekonomi.
NEW DELHI – Gelombang kekecewaan generasi muda India terhadap sistem pendidikan dan lapangan kerja mulai menjadi tantangan besar bagi pemerintah. Tingginya pengangguran lulusan, kebocoran ujian masuk, serta minimnya peluang kerja berkualitas memicu tekanan publik yang berujung pada mundurnya Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan.
Pengunduran diri Dharmendra Pradhan terjadi setelah aksi protes kelompok Generation Z (Gen Z) akibat kasus kebocoran soal ujian masuk yang berulang. Peristiwa tersebut membuka kembali persoalan lama mengenai kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi India dan kemampuan negara menyediakan pekerjaan layak bagi jutaan anak muda.
Pemerintah India merespons tekanan publik dengan membentuk langkah perbaikan sistem ujian, termasuk pengadilan jalur cepat untuk menangani pihak yang diduga terlibat kebocoran serta menunjuk pengusaha teknologi Nandan Nilekani untuk membantu reformasi sistem pendidikan.
Namun, sejumlah ekonom menilai persoalan yang dihadapi India lebih luas daripada sekadar masalah ujian. Ekonom Santosh Mehrotra menyebut lemahnya pertumbuhan lapangan kerja menjadi salah satu penyebab meningkatnya keresahan generasi muda.
“Pasar tenaga kerja telah menjadi brutal dalam 10 tahun terakhir. Pekerjaan non-pertanian tidak tumbuh dan upah riil stagnan,” kata Mehrotra kepada BBC, sebagaimana diberitakan SindoNews, Selasa (04/08/2026).
Menurut Mehrotra, India menghadapi dua persoalan secara bersamaan, yakni struktur ekonomi yang belum mampu menciptakan permintaan tenaga kerja yang cukup serta sistem pendidikan yang belum sepenuhnya menghasilkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
“India memiliki masalah simultan. Ekonomi secara struktural lemah sehingga permintaan tenaga kerja tidak tumbuh. Dan sistem pendidikan kita sangat buruk, sehingga tidak mampu menyediakan tenaga kerja baru yang dapat dipekerjakan,” ujarnya.
India saat ini memiliki populasi muda terbesar di dunia dengan lebih dari 360 juta penduduk berusia 15 hingga 29 tahun. Besarnya jumlah generasi produktif tersebut menjadi peluang ekonomi, tetapi juga menjadi tekanan apabila tidak diikuti ketersediaan pekerjaan.
Laporan State of Working India 2026 dari Universitas Azim Premji menyebutkan peralihan dari pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi tantangan utama, terutama bagi lulusan perguruan tinggi.
Dalam laporan tersebut disebutkan tingkat pengangguran anak muda India jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Masalah pengangguran lulusan bahkan telah berlangsung selama puluhan tahun dan semakin berat akibat bertambahnya jumlah lulusan tanpa peningkatan lapangan kerja yang sebanding.
Data laporan itu mencatat, pada 1983 hanya 4 persen penduduk usia 20 hingga 29 tahun merupakan lulusan perguruan tinggi, dengan tingkat pengangguran 13 persen. Sementara pada 2023, jumlah lulusan meningkat menjadi 28 persen, tetapi sekitar 67 persen di antaranya tidak memiliki pekerjaan.
“Antara tahun 2004-05 dan 2023, meskipun sekitar lima juta lulusan ditambahkan setiap tahun, hanya sekitar 2,8 juta yang mendapatkan pekerjaan, dan bahkan sebagian kecil yang memasuki pekerjaan bergaji tetap, yang berkontribusi pada meningkatnya pengangguran lulusan dan melambatnya pertumbuhan pendapatan,” demikian laporan tersebut.
Selain persoalan pendidikan, perubahan struktur industri juga ikut memengaruhi peluang kerja generasi muda. Sektor teknologi informasi yang selama beberapa dekade menjadi simbol mobilitas ekonomi kelas menengah India kini menghadapi tantangan akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Laporan Goldman Sachs memperkirakan sekitar 8 hingga 12 persen pekerjaan nonpertanian di India berpotensi terdampak otomatisasi berbasis AI. Kondisi tersebut membuat pekerjaan berbasis pengetahuan tidak lagi mudah diperoleh seperti sebelumnya.
CEO TeamLease Digital Neeti Sharma mengatakan perusahaan kini mulai lebih mempertimbangkan keterampilan praktis dibandingkan hanya latar belakang pendidikan formal.
“Lulusan muda harus mengubah pola pikir mereka ke realitas baru bahwa pekerjaan berbasis pengetahuan kerah putih semakin berkurang. Dan lembaga pendidikan harus beralih ke penyediaan keterampilan kejuruan daripada hanya pembelajaran berbasis pengetahuan,” kata Sharma.
Menurut Sharma, perubahan kebutuhan industri membuat generasi muda harus menyesuaikan harapan karier mereka, termasuk mempertimbangkan pekerjaan berbasis keterampilan teknis.
Di sisi lain, sektor manufaktur India juga menghadapi tantangan. Kontribusi sektor tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) disebut menurun dari 17 persen pada 2015 menjadi sekitar 14 persen saat ini. Penurunan tersebut berdampak terhadap kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja baru.
Pemerintah India kini menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga agar bonus demografi tidak berubah menjadi persoalan sosial. Para ahli menilai perbaikan sistem pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan reformasi industri menjadi kunci agar generasi muda tetap memiliki kepercayaan terhadap masa depan ekonomi negara tersebut. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan