Iran Tolak Koridor Baru, Kapal Perang AS Diingatkan soal Hormuz

Iran memperingatkan akan menyerang kapal perang Amerika Serikat yang mencoba menggunakan jalur berbeda di Selat Hormuz, sementara kedua negara masih bersitegang terkait diplomasi dan keamanan kawasan.

TEHERAN – Iran meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan memperingatkan akan menargetkan kapal perang AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang tidak disetujui Teheran. Ancaman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara terkait pengelolaan jalur pelayaran strategis dunia itu.

Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mayor Jenderal Mohsen Rezaee, menyatakan negaranya tidak akan membuka koridor pelayaran alternatif yang berada di luar ketentuan Iran. Ia menegaskan kapal perang Amerika Serikat yang memaksa menggunakan rute berbeda akan menghadapi tindakan militer.

“(Kami tidak akan mengizinkan) koridor kedua dibuka. Bahkan jika mereka (AS) mengerahkan kapal perang, kami akan menargetkan mereka,” ujar Rezaee dalam wawancara dengan media pemerintah Iran, sebagaimana diberitakan Antara, Selasa (04/08/2026).

Rezaee juga memperingatkan bahwa langkah Amerika Serikat yang tetap menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dapat memicu ancaman serius terhadap kapal maupun pangkalan militer AS di kawasan.

“Pasti akan ada bahaya serius bagi kapal dan pangkalan AS. Kami tidak akan duduk dan menyaksikan AS melanjutkan blokade laut,” katanya.

Pernyataan Iran tersebut disampaikan ketika Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab itu merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi global.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam rangkaian ketegangan setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Upaya diplomasi yang berlangsung setelah konflik tersebut belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran masih memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Ia mengatakan pembicaraan terkait penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung, meski pemerintah Iran membantah adanya negosiasi langsung.

“Kami sedang berbicara sekarang,” kata Trump.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik,” ujar Trump.

“Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum dipenggal,” lanjutnya.

Trump menyatakan pembahasan antara kedua pihak berkaitan dengan pengelolaan Selat Hormuz serta isu program nuklir Iran. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pembicaraan yang berlangsung saat ini hanya berkaitan dengan Oman sebagai pihak perantara untuk mengamankan jalur pelayaran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, “Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur melalui Selat Hormuz.”

Sementara itu, situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi perhatian setelah badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di dekat perairan Oman. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut.

Iran sebelumnya menyatakan ingin mempertahankan kendali terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengatur rute yang dianggap sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Teheran juga menyebut kesepahaman bersama Oman mengenai jalur pelayaran baru hampir tercapai, tetapi kesepakatan itu belum berarti pembukaan penuh selat tersebut.

“Kita sekarang akan mencapai kesepahaman tentang rute yang dapat diterima oleh kedua belah pihak—bukan rute utara maupun rute selatan—tetapi rute yang menghormati hak kedaulatan kedua belah pihak dan melindungi kepentingan dan keamanan nasional kita,” kata Baghaei.

Ketegangan di Selat Hormuz diperkirakan masih menjadi perhatian internasional karena setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi berdampak terhadap keamanan kawasan serta distribusi energi global. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com