Hamas Pilih Khalil al-Hayya, Babak Baru Kepemimpinan Gaza Dimulai

Hamas menetapkan Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik baru di tengah tekanan perang, negosiasi gencatan senjata yang belum membuahkan hasil, dan meningkatnya sorotan internasional terhadap konflik Gaza.

GAZA – Hamas menetapkan Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik yang baru melalui pemilihan internal untuk mengisi kekosongan kepemimpinan pascapembunuhan Yahya Sinwar. Penunjukan tersebut berlangsung di tengah tekanan militer Israel, tuntutan internasional agar Hamas melucuti senjata, serta belum tercapainya kesepakatan permanen terkait gencatan senjata di Jalur Gaza.

Al-Hayya terpilih setelah bersaing dengan mantan kepala biro politik Hamas, Khaled Meshaal. Sebelumnya, ia menjabat sebagai kepala Hamas di Gaza dalam pengasingan sekaligus memimpin tim negosiasi gencatan senjata.

Pemilihan itu berlangsung ketika Hamas menghadapi salah satu periode paling berat sejak organisasi tersebut berdiri pada 1987. Perang berkepanjangan dengan Israel, hilangnya sejumlah pemimpin senior, serta tekanan diplomatik internasional menjadi tantangan utama yang dihadapi kepemimpinan baru organisasi tersebut.

Proses pemilihan sempat tertunda akibat konflik yang meluas di Iran dan Lebanon serta operasi militer Israel yang masih berlangsung di Gaza. Setelah pemungutan suara digelar, dewan beranggotakan sekitar 50 perwakilan Hamas dari Gaza, Tepi Barat, dan kepemimpinan di pengasingan menentukan al-Hayya sebagai pemimpin baru.

Kondisi keamanan di Gaza juga masih menjadi perhatian. Meski gencatan senjata telah berlangsung selama sembilan bulan, kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran hampir setiap hari. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, serangan Israel selama 275 hari menewaskan 1.122 warga Palestina dan melukai 3.599 lainnya. Di sisi lain, Hamas juga dituduh melanggar gencatan senjata melalui serangan terhadap pasukan Israel dan bentrokan dengan kelompok bersenjata lain.

Sebagaimana diberitakan SindoNews, Kamis (23/07/2026), proses negosiasi yang melibatkan Hamas, para mediator, dan Amerika Serikat (AS) hingga kini belum menghasilkan kesepakatan menyeluruh untuk mengakhiri konflik. Israel juga masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah pesisir Gaza, sementara sekitar dua juta penduduk tetap menghadapi kondisi kemanusiaan yang berat.

Melansir RT, al-Hayya lahir di Gaza pada 1960 dan menjadi anggota Hamas sejak organisasi itu berdiri pada 1987. Ia meniti karier melalui kepemimpinan lokal sebelum menjadi salah satu tokoh politik utama yang berperan dalam berbagai perundingan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Riwayat hidupnya juga diwarnai kehilangan anggota keluarga akibat konflik. Istri dan tiga anaknya meninggal dalam upaya pembunuhan yang menargetkannya pada 2007. Ia kemudian berperan penting dalam perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel pada konflik 2014 maupun 2023.

Penunjukan al-Hayya juga dinilai memperkuat hubungan Hamas dengan Iran dan kelompok yang dikenal sebagai Axis of Resistance (Poros Perlawanan), termasuk Hizbullah. Sejumlah analis yang dikutip Reuters menilai kepemimpinan baru tersebut dapat mencerminkan sikap yang lebih tegas di tengah meningkatnya tekanan internasional agar Hamas menyerahkan persenjataannya.

Setelah hasil pemilihan diumumkan, Hizbullah menyampaikan ucapan selamat kepada Hamas dan menyebut proses tersebut menunjukkan organisasi itu tetap “kuat dan bersatu” meskipun kehilangan sejumlah pemimpinnya akibat perang. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com