Dinkes Tapin memperkuat surveilans, kesiapan tenaga kesehatan, ketersediaan obat, edukasi, dan pembagian masker menyusul peningkatan kasus ISPA pada Agustus 2026.
TAPIN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tapin memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan setelah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat pada Agustus 2026 di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah yang dilakukan meliputi penguatan pemantauan kasus, kesiapan tenaga kesehatan, ketersediaan obat dan peralatan, edukasi, hingga pembagian masker kepada masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tapin Puji Winarta mengatakan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 1.412 kasus pada Juli menjadi 2.201 kasus pada Agustus.
“Kasus ISPA meningkat dari 1.412 kasus pada Juli menjadi 2.201 kasus pada Agustus, atau meningkat sekitar 56 persen,” kata Puji, dikonfirmasi.
Peningkatan tersebut terjadi ketika kabut asap akibat karhutla turut menyelimuti wilayah Kota Rantau pada Minggu (27/09/2026). Menurut Puji, asap karhutla mengandung partikulat dan berbagai polutan yang dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperberat keluhan masyarakat.
Namun, Dinkes Tapin tidak mengaitkan seluruh peningkatan ISPA secara langsung dengan kabut asap. Puji menyebut penyakit tersebut memiliki sejumlah faktor penyebab lain yang juga perlu diperhatikan.
“ISPA memiliki banyak faktor penyebab, termasuk infeksi virus dan bakteri, kepadatan hunian, perilaku, serta kondisi lingkungan lainnya,” jelasnya.
Kelompok yang dinilai membutuhkan perhatian lebih dalam kondisi tersebut meliputi balita, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan. Dinkes Tapin juga mencatat seluruh wilayah kerja pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terdampak kabut asap.
Data yang digunakan Dinkes Tapin merupakan rekapitulasi masyarakat yang datang dan memperoleh pelayanan di puskesmas. Perbedaan peningkatan kasus juga terjadi antarwilayah pelayanan.
“Artinya, dari bulan Juli ke Agustus ada peningkatan. Antar-puskesmas peningkatannya bervariasi,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan Banjarmasinpost, Minggu (27/09/2026), Dinkes Tapin mencatat 1.039 kasus ISPA hingga minggu ke-37 atau 19 September 2026. Secara bulanan, kasus ISPA tercatat sebanyak 2.492 kasus pada Januari, 1.648 kasus Februari, 1.345 kasus Maret, 1.300 kasus April, 1.193 kasus Mei, 1.279 kasus Juni, 1.412 kasus Juli, dan 2.201 kasus pada Agustus.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Tapin memperkuat surveilans dengan memantau perkembangan kasus ISPA. Fasilitas kesehatan juga dipastikan memiliki obat dan peralatan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Menyiapkan tenaga kesehatan untuk menghadapi peningkatan kunjungan,” kata Puji.
Selain kesiapan fasilitas dan tenaga medis, edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui media sosial dan spanduk bersama bagian hubungan masyarakat (humas). Dinkes Tapin juga telah menyiapkan surat edaran Bupati serta surat edaran Kepala Dinas Kesehatan kepada fasilitas pelayanan kesehatan.
Upaya pencegahan turut dilakukan melalui pembagian masker kepada masyarakat. Dinkes dan puskesmas di Tapin telah menjalankan kegiatan tersebut, terutama untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap.
Puji mengimbau masyarakat menggunakan masker, khususnya ketika beraktivitas di luar rumah saat kabut asap muncul. Masyarakat juga diminta segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
“Masyarakat dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam sebaiknya datang ke pelayanan kesehatan untuk berobat,” pungkasnya. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan