Keir Starmer resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris setelah menyerahkan pengunduran diri kepada Raja Charles III di tengah tekanan politik yang meningkat.
LONDON – Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer resmi mengakhiri masa jabatannya setelah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Raja Charles III di Istana Buckingham, Senin. Pengunduran diri tersebut menandai berakhirnya kepemimpinan Starmer di tengah tekanan politik yang terus meningkat akibat ketidakpuasan publik dan hasil buruk Partai Buruh dalam pemilihan sela.
Dalam pernyataan resmi Kerajaan Inggris, pengunduran diri Starmer telah diterima oleh Raja Charles III. Keputusan tersebut diambil setelah Starmer lebih dahulu menyampaikan pidato perpisahan di depan Kantor PM Inggris sebelum menemui kepala negara, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (20/07/2026).
“Keir Starmer menghadap Raja pagi ini dan mengajukan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Pertama, yang dengan senang hati diterima oleh Yang Mulia,” demikian pernyataan Kerajaan Inggris.
Dalam pidato terakhirnya, Starmer menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Inggris serta menilai tugasnya sebagai kepala pemerintahan telah selesai.
“Saya akan segera menemui Yang Mulia Raja untuk menyampaikan pengunduran diri saya dan mengakhiri masa jabatan saya sebagai perdana menteri. Tugas saya sudah selesai,” kata Starmer.
Starmer juga menyinggung perjalanan kepemimpinannya selama enam setengah tahun memimpin Partai Buruh. Menurutnya, partai tersebut berhasil bangkit dari kekalahan besar pada 2019 hingga memenangkan pemilihan umum pada 2024.
“Sejak saat itu, merupakan suatu kehormatan terbesar dalam hidup saya melayani Anda dan negara besar ini sebagai perdana menteri, dan saya yakin bahwa Inggris sekarang lebih kuat dan lebih adil daripada dua tahun yang lalu,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi Inggris dinilai lebih kuat dibanding sebelumnya, layanan publik mengalami peningkatan, tingkat kemiskinan dan imigrasi menurun, serta sektor pertahanan, keamanan, dan reputasi internasional negara mengalami penguatan.
Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir tekanan politik terhadap Starmer semakin besar. Gelombang kritik terhadap kondisi ekonomi serta kekalahan Partai Buruh dalam pemilihan sela mendorong banyak anggota partainya mendesak agar ia mengundurkan diri. Keputusan tersebut sekaligus membuka babak baru dalam dinamika politik Inggris. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan