Prancis menolak keterlibatan militer dan mendorong koordinasi AS-Iran untuk membuka kembali jalur energi strategis Selat Hormuz.
ARMENIA – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer yang dinilai tidak memiliki kerangka kerja jelas, sembari mendorong Amerika Serikat (AS) dan Iran menempuh jalur koordinasi untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Macron dalam pertemuan para pemimpin Eropa di Armenia pada Senin (4/5/2026), di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan pengerahan militer AS untuk mengawal kapal-kapal di jalur strategis tersebut.
“Yang paling kami inginkan adalah pembukaan kembali secara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Iran — itulah satu-satunya solusi untuk membuka kembali Selat Hormuz,” cetus Macron.
Ia menegaskan, pendekatan militer bukan pilihan utama bagi Prancis tanpa kejelasan mandat internasional yang kuat.
“Kami tidak akan ikut serta dalam operasi militer apa pun dalam kerangka kerja yang menurut saya tidak jelas,” ucapnya, sebagaimana dilansir Detiknews, Senin (04/05/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas dunia yang saat ini mengalami gangguan akibat konflik dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi global.
Sebagai bagian dari upaya diplomatik, Prancis bersama Inggris mendorong pembentukan koalisi internasional yang bertujuan memastikan jalur pelayaran dapat kembali dibuka setelah situasi keamanan dinilai kondusif.
Macron berharap koordinasi langsung antara AS dan Iran dapat menjadi kunci penyelesaian, sehingga arus perdagangan energi global kembali normal tanpa memperluas eskalasi konflik di kawasan tersebut. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan