Panas 40 Derajat Celsius, Prancis Catat Lonjakan Kematian

Gelombang panas ekstrem membuat layanan pemakaman di Paris kewalahan, sementara sejumlah wilayah Prancis mencatat suhu hingga 40 derajat Celsius.

PARIS – Layanan pemakaman di Paris, Prancis, menghadapi tekanan besar setelah gelombang panas ekstrem memicu lonjakan kematian dan membuat ruang penyimpanan jenazah di sejumlah rumah duka penuh dalam beberapa hari terakhir.

Direktur layanan pemakaman Family Obseques, Fabien Hugues, mengatakan rumah duka kesulitan mencari tempat penyimpanan jenazah karena peningkatan kematian terjadi dalam waktu singkat, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Senin (29/06/2026).

“Rumah duka kewalahan, dan kami tak bisa menemukan tempat untuk jenazah. Situasinya sangat sulit,” kata Hugues kepada BFMTV.

Hugues menyebut pencarian ruang penyimpanan jenazah bahkan harus diperluas hingga Eure-et-Loir dan Normandia. Antrean layanan kremasi juga bertambah panjang.

“Bahkan untuk kremotarium, waktu tunggu kremasi sudah diperpanjang dari tanggal 16 Juli menjadi tanggal 17 Juli,” ucap dia.

Kondisi serupa dialami pengurus rumah duka lain, Zouhaeir Hertelli. Ia mengaku menerima ratusan panggilan telepon dari warga dan pihak keluarga yang menanyakan ketersediaan ruang penyimpanan jenazah.

“Kami menghadapi situasi yang benar-benar mengerikan. Saya menerima ratusan panggilan telepon,” kata dia, dikutip France24.

Hertelli mengatakan lonjakan kematian membuat kapasitas rumah duka benar-benar penuh.

“Kami sedang menghadapi lonjakan kematian yang sangat besar karena gelombang panas dan kapasitas kami benar-benar penuh.”

Pemerintah Kota (Pemkot) Paris telah memasang dua unit penyimpanan sementara, masing-masing berkapasitas 20 tempat. Rumah sakit kota juga menyiapkan 50 tempat tambahan untuk membantu mengatasi keterbatasan ruang jenazah.

Namun, sejumlah pengurus pemakaman tetap harus menyimpan jenazah di lokasi yang jauh dari Paris, termasuk Chartres yang berjarak sekitar 80 kilometer dari ibu kota. Hertelli juga menyiapkan kontainer berpendingin di luar kamar jenazah dekat Bandara Orly Paris, tetapi masih menunggu persetujuan.

“Kami tidak punya solusi untuk menawarkan, karena rumah duka sudah penuh,” kata dia.

“Jadi kami sangat terpengaruh, kami berempati kepada mereka, tetapi tidak ada yang bisa kami tawarkan. Kami benar-benar menghadapi masalah, masalah besar,” imbuh Hertelli.

Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Polandia. Di Prancis, sejumlah wilayah mencatat suhu 36 hingga 40 derajat Celsius. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis atau Public Health France melaporkan gelombang panas memicu sekitar 1.000 kematian dalam sepekan ini.

Situasi tersebut menjadi peringatan serius bagi otoritas kesehatan dan layanan publik di Eropa untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, terutama perlindungan bagi kelompok rentan serta kapasitas fasilitas kesehatan dan pemakaman. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com