Pemkot Palangka Raya Kuatkan Literasi Anak Lewat Lomba Bertutur

Sebanyak 50 peserta mengikuti Lomba Bertutur 2026 di Palangka Raya untuk mengasah kemampuan komunikasi, meningkatkan minat baca, dan melestarikan cerita rakyat.

PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya memperkuat budaya literasi anak melalui Lomba Bertutur Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Palangka Raya di Aula Kantor Dispursip, Kamis (18/06/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengasah keberanian berbicara di depan umum, melatih kemampuan menyampaikan cerita secara runtut, sekaligus mengenalkan kembali cerita rakyat dan legenda nusantara di tengah kuatnya arus digital.

Lomba tersebut dibuka Wakil Wali Kota (Wawali) Palangka Raya, Achmad Zaini, dan turut dihadiri Bunda Literasi Kota Palangka Raya, Avina Fairid Naparin. Sebanyak 50 peserta terbaik mengikuti kompetisi ini setelah melalui seleksi di sekolah masing-masing, sebagaimana diberitakan Media Center Palangka Raya, Kamis, (18/06/2026).

Dalam sambutannya, Zaini mengatakan lomba bertutur memiliki nilai penting dalam pembentukan karakter anak. Menurutnya, bertutur bukan sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga melatih anak menjelaskan pesan secara menarik dan mudah dipahami.

“Hal yang terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana kita mengajarkan anak-anak bahwa sesuatu itu perlu penjelasan atau storytelling. Sesuatu akan terasa biasa saja kalau tidak dijelaskan dengan baik, tetapi dengan bertutur, penyampaiannya menjadi mudah dipahami, mengerti, dan tentunya jauh lebih menarik,” ujar Zaini.

Ia menambahkan, antusiasme sekolah di Palangka Raya cukup tinggi meski kuota peserta pada lomba tersebut terbatas. Setiap sekolah mengirimkan perwakilan terbaik untuk mengikuti kegiatan yang sejalan dengan program penguatan literasi nasional tersebut.

Kepala Dispursip Kota Palangka Raya, Yohn Benhur G Pangaribuan, menjelaskan lomba bertutur juga membawa misi pelestarian budaya lokal. Ia menilai tradisi lisan, termasuk mendongeng, menjadi salah satu cara efektif mengenalkan sejarah, nilai moral, dan identitas budaya kepada anak-anak.

“Kita memiliki kekayaan berupa cerita rakyat dan legenda nusantara yang luar biasa banyak. Agar tidak tergerus perkembangan zaman, nilai-nilai ini harus terus diwariskan, dan salah satu cara terbaiknya adalah lewat tradisi lisan seperti bertutur dan mendongeng sejak usia dini,” jelas Yohn.

Selain menjaga tradisi lisan, Yohn menyebut lomba bertutur turut mendorong minat baca anak. Peserta harus membaca, memahami, mendalami, dan mengolah isi cerita sebelum menyampaikannya secara komunikatif di hadapan dewan juri.

Melalui kegiatan tersebut, Pemkot Palangka Raya berharap penguatan literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga berkembang menjadi kecakapan berkomunikasi, keberanian tampil, dan kebanggaan terhadap budaya bangsa. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com