Perang AS-Iran Makin Sengit, Selat Hormuz Jadi Titik Ketegangan

Militer AS kembali menyerang Iran setelah satu tentaranya tewas akibat serangan drone, sementara ketegangan kedua negara terus meningkat di tengah konflik yang melibatkan kawasan Timur Tengah.

TEHERAN –
Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah militer AS kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran di Iran pada hari kesembilan konflik. Operasi tersebut dilakukan setelah seorang personel militer AS tewas akibat insiden serangan drone Iran di Irak utara, yang memperbesar tekanan antara Washington dan Teheran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru itu bertujuan mengurangi kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Dalam unggahan di X, CENTCOM mengatakan, “Serangan tersebut akan terus menurunkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.”

Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap anggota militernya yang gugur dalam rangkaian konflik dengan Iran. “Kami kembali menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, dan kami melakukan itu untuk menghormati, mungkin tiga, mungkin tiga patriot hebat,” kata Trump kepada wartawan saat kembali ke Washington setelah final Piala Dunia, sebagaimana diberitakan SindoNews, Senin, (20/07/2026).

Trump juga menyampaikan duka atas jatuhnya korban dari pihak militernya. “Kami merasa sangat sedih,” kata Trump ketika ditanya tentang korban jiwa di kalangan militer AS, menambahkan bahwa mereka yang gugur berjuang agar Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir.

Sebelumnya, CENTCOM mengonfirmasi satu tentara AS tewas setelah serangan drone Iran di Irak utara pada Sabtu. Insiden itu terjadi sehari setelah serangan rudal dan drone Iran terhadap pangkalan militer di Yordania yang menyebabkan dua tentara AS meninggal dan satu lainnya masih dalam pencarian.

Menurut CENTCOM, korban meninggal saat proses peledakan terkontrol terhadap amunisi yang belum meledak dari drone serang Iran yang jatuh. Peristiwa tersebut juga menyebabkan satu personel militer AS lainnya mengalami luka.

Konflik antara kedua negara terus meningkat setelah aksi saling serang berlangsung selama beberapa hari terakhir. Washington dan Teheran disebut sama-sama menyasar fasilitas strategis, termasuk infrastruktur yang berkaitan dengan kepentingan militer dan energi.

Selain melancarkan serangan udara, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz tertutup dan meningkatkan tekanan terhadap sejumlah negara yang menjadi sekutu AS di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka akibat serangan AS dalam tiga pekan terakhir. Media Iran juga melaporkan adanya serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan di Darkhoveyn, wilayah barat daya Iran.

Badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan penahanan diri dari pihak-pihak yang bertikai. Lembaga tersebut menyatakan fasilitas nuklir yang dilaporkan terkena serangan masih berada dalam tahap awal pembangunan dan belum memiliki material nuklir saat pemeriksaan terakhir.

Dengan meningkatnya intensitas serangan, jumlah korban dari pihak militer AS dalam konflik melawan Iran dilaporkan mencapai 17 personel. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan berdampak terhadap keamanan kawasan serta stabilitas jalur perdagangan energi dunia. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com