Polres Seruyan Perkuat Koordinasi Penanganan Bencana

Latihan Aman Nusa II-2026 menguji kesiapan personel, koordinasi lintas fungsi, komunikasi, dan pengambilan keputusan Polres Seruyan dalam menghadapi kondisi bencana yang kompleks dan beruntun.

SERUYAN – Kesiapan personel, koordinasi lintas fungsi, dan pengambilan keputusan menjadi aspek yang diuji Kepolisian Resor (Polres) Seruyan dalam latihan olah strategi penanganan bencana yang digelar secara daring, Kamis (17/09/2026). Latihan tersebut menjadi bagian dari skenario Aman Nusa II-2026 untuk memastikan jajaran kepolisian mampu merespons kondisi darurat secara terukur.

Latihan berlangsung melalui Zoom Meeting Latihan Olah Strategi Aman Nusa II Penanganan Bencana mulai pukul 08.00 WIB. Di tingkat Polres Seruyan, kegiatan dipusatkan di Gedung Vicon Wicaksana Laghawa dengan melibatkan pimpinan, pejabat utama, dan operator operasional.

Kegiatan dipimpin Astamaops Kapolri Roycke Harry Langie dan diikuti jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) secara daring. Polres Seruyan diikuti Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Seruyan Beddy Suwendi, Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Seruyan Syaifullah, sejumlah pejabat utama, serta operator operasional.

Materi latihan mengacu pada dokumen Rencana Kontingensi Aman Nusa II-2026 tentang Penanggulangan Bencana. Skenario yang digunakan dirancang untuk menguji kemampuan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) dan Polres dalam menghadapi bencana yang memiliki tingkat kerumitan tinggi maupun berlangsung secara beruntun.

Dalam skenario tersebut, kesiapan tidak hanya diukur dari kecepatan merespons kejadian. Setiap unsur juga dituntut memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing, membangun komunikasi yang efektif, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang berkembang di lapangan.

Bagi Polres Seruyan, latihan menjadi sarana untuk memetakan kesiapan operasional menghadapi berbagai kemungkinan bencana di wilayah hukumnya. Pola latihan berbasis skenario memungkinkan setiap unsur menguji mekanisme koordinasi sebelum menghadapi kondisi darurat yang sebenarnya.

Melalui kegiatan tersebut, kesiapsiagaan diharapkan tidak berhenti pada respons ketika bencana terjadi. Kemampuan membangun koordinasi dan komunikasi sejak awal situasi darurat berkembang menjadi bagian penting agar penanganan dapat berlangsung cepat, terarah, dan sesuai kebutuhan di lapangan. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com