Serangan pesawat nirawak Iran di Irak utara menewaskan satu personel militer AS dan meningkatkan jumlah korban pasukan Washington dalam konflik yang terus meluas di Timur Tengah.
BAGHDAD – Serangan pesawat nirawak Iran di Irak utara menewaskan satu personel militer Amerika Serikat (AS), memperbesar daftar korban pasukan Washington dalam konflik yang terus meluas antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah. Insiden tersebut membuat jumlah tentara AS yang meninggal selama rangkaian perang dengan Iran meningkat menjadi 17 orang.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan seorang anggota militer AS tewas saat proses peledakan terkendali terhadap sisa amunisi dari pesawat nirawak serang Iran yang jatuh di Irak utara. Ledakan tersebut juga menyebabkan satu personel militer lainnya mengalami luka.
Kematian terbaru itu terjadi setelah serangkaian serangan yang melibatkan kedua negara dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, dua tentara AS tewas akibat serangan rudal dan pesawat nirawak Iran terhadap pangkalan militer di Yordania, sementara satu personel lain masih dalam proses identifikasi.
CENTCOM menyebut pihaknya menemukan “sisa-sisa tak dikenal” dari lokasi serangan di Yordania pada Jumat. “Proses pemeriksaan untuk memverifikasi sisa-sisa tersebut sedang berlangsung,” demikian keterangan CENTCOM sebagaimana diberitakan BBC, Senin (20/07/2026).
Eskalasi konflik ini membuat kawasan sekitar Selat Hormuz menjadi titik ketegangan utama. AS menyatakan operasi militernya bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional serta memberikan respons terhadap serangan yang dituduhkan dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas yang terkait dengan kepentingan AS dan sekutunya di kawasan. Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari tersebut kini tidak hanya melibatkan sasaran militer, tetapi juga berdampak terhadap sejumlah infrastruktur penting.
Di Iran, pemerintah setempat melaporkan puluhan warga meninggal dan ratusan lainnya terluka akibat serangan selama konflik berlangsung. Sejumlah fasilitas energi dan infrastruktur juga dilaporkan mengalami kerusakan, meskipun masing-masing pihak saling menyampaikan tuduhan terkait sasaran yang mereka serang.
Ketegangan regional turut meningkat setelah beberapa negara sekutu AS ikut terdampak. Kuwait melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik dan air, sementara Dewan Kerja Sama Teluk yang beranggotakan Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menuding Iran menyerang infrastruktur sipil.
Di sisi lain, Iran menuduh AS menyerang sejumlah fasilitas nonmiliter, termasuk jembatan, bandara, dan stasiun kereta api. Washington membantah tudingan tersebut dan menyatakan serangannya hanya diarahkan terhadap target militer serta fasilitas pendukung operasi pertahanan.
Upaya diplomasi untuk menghentikan konflik sebelumnya sempat dilakukan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan permanen. Kondisi tersebut membuat kekhawatiran terhadap meluasnya perang semakin meningkat, terutama karena melibatkan lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan