Stunting di Kabupaten Banjar Ditekan Melalui Inovasi PAIS PATIN

Inovasi PAIS PATIN mengintegrasikan layanan kesehatan ibu, bayi, dan anak untuk mempercepat deteksi serta penanganan stunting di Kabupaten Banjar.

BANJAR – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Banjar diperkuat melalui inovasi Pelayanan Anak Terpadu Beserta Ibu dan Neonatal (PAIS PATIN) yang diterapkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura. Layanan terintegrasi tersebut menggabungkan skrining, penanganan, hingga sistem rujukan bagi anak, ibu hamil, dan bayi baru lahir dalam satu alur pelayanan.

Program yang mulai diterapkan sejak awal 2025 itu dirancang untuk mempercepat deteksi anak berisiko stunting sekaligus meningkatkan koordinasi antarprofesi kesehatan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan menyeluruh.

Dokter Ahli Gizi RSUD Ratu Zalecha sekaligus inovator PAIS PATIN, Taufik Rahmadi, mengatakan inovasi tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap tingginya prevalensi stunting di Kabupaten Banjar yang sebelumnya mencapai sekitar 30 persen.

“Pais Patin merupakan inovasi pelayanan kesehatan yang memfokuskan penanganan stunting secara terintegrasi melalui skrining, pelayanan terpadu dan sistem rujukan berjenjang,” katanya saat menjadi narasumber talkshow di Radio Suara Banjar, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis (30/07/2026).

Menurut Taufik, layanan tersebut memiliki tiga fungsi utama, yakni mendeteksi balita yang berisiko mengalami stunting sejak dini, memberikan pelayanan kesehatan terpadu kepada anak, ibu hamil, dan bayi baru lahir, serta memastikan proses rujukan medis berlangsung cepat, tepat, dan terintegrasi.

Melalui PAIS PATIN, pasien tidak lagi harus berpindah-pindah layanan untuk mendapatkan penanganan. Anak maupun ibu hamil dapat berkonsultasi dengan dokter anak, dokter gizi, dan tenaga kesehatan lainnya dalam satu kali kunjungan sehingga upaya pencegahan stunting menjadi lebih efektif.

Pelaksanaan inovasi tersebut juga diperkuat melalui kerja sama dengan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Banjar untuk memantau perkembangan anak yang dirujuk ke RSUD Ratu Zalecha sekaligus mengevaluasi efektivitas intervensi gizi secara berkelanjutan.

“Tahun ini layanan juga berkembang melalui pemanfaatan telemedicine menggunakan aplikasi Konsultasi Media Online (Komen) yang dikembangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), sehingga konsultasi dapat dilakukan secara lebih mudah,” ujar Taufik.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, prevalensi stunting di daerah tersebut telah menurun dari sekitar 30 persen menjadi 23 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas target nasional, yakni di bawah 14 persen.

Taufik menegaskan keberhasilan menekan angka stunting memerlukan keterlibatan seluruh pihak, terutama dalam mengawasi tumbuh kembang anak selama seribu hari pertama kehidupan.

“Kami mengimbau para orang tua agar memperhatikan asupan gizi anak, rutin membawa balita ke posyandu, dan segera berkonsultasi ke puskesmas atau RSUD Ratu Zalecha apabila menemukan kendala dalam pertumbuhan maupun perkembangan anak,” katanya.

Ke depan, RSUD Ratu Zalecha juga berencana membuka kelas edukasi di sejumlah Puskesmas di Kabupaten Banjar guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi dan pencegahan stunting sejak dini. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com